Cerita Lari di DaNang Marathon – Vietnam

 

“Liv, ikut lari dong kapan-kapan kayak suami lo!” – kata orang-orang. Yak, susahnya punya suami sport Physiotherapist plus pelari aktif – ialah di ekspektasi kan untuk punya gaya hidup yang sama. Padahal kita beda banget. Gue nyeni banget, dia sporty banget. Dia anggap lari sebagai suatu kenikmatan sementara gue anggap itu sebagai penyiksaan. Haha!

Tapi ya setelah waktu berlalu, gue pikir, boleh deh nih ikutan lari sekali- kali. Pertama kali gue ikut lari sama dia itu beberapa tahun lalu, di acara bernama TWIN RUN. Kita pake satu baju besar muat dua orang, dan kita lari berdua bareng-bareng sejauh 2,5 km muterin Gelora Bung Karno. Kocak banget dan seru banget. Tapi yawis abis itu selesai. Nggak mau lari lagi. Tapi anehnya kemaren pas suami ajak “lari bareng yukkk di Vietnam” – gue mendadak meng iya kan, dengan syarat gak mau jauh-jauh, 5km ajah. Sementara suamiku, ya of course full marathon 42 km. Udah bagus banget nih gue mau lari tanpa ancaman. 

Maka berangkatlah kita ke Vietnam. Suami harus tiba beberapa hari sebelum hari maratonnya untuk aklimatisasi, penyesuain dengan keadaan cuaca. Dan emang agak shock dengan panasnya kota Da Nang di Vietnam ini. Siang tuh bisa sampe 38 derajat celcius. Buset panas banget ituuuh.

Di hari H, gue deg-deg an banget. Kebayang ya orang yang gak pernah suka lari terus harus lari 5 km… adoohhh kalo gak bisa sampe finish gimana? Huhuhu

Sementara suami, semangaatttt 45, karena dia udah niat mau cetak waktu baru terbaik lari nya di sini alias PB (personal best- istilah untuk catatan waktu pribadi terbaik pelari). Semua udah siap dan dia berangkat duluan paginya karena kalo lari 42 km tuh startnya subuh, sementara untuk pelari cemen model gue, start nya diatas jam 7 pagi. Hehehee




Waktu gue sampai di lokasi, pas banget para pelari full maraton yang waktunya oke sedang berlewatan untuk menempuh km ke 21- nya mereka. Gue dari jauh pas langsung liat suami yang berbaju merah mau lewat. Waaaaahhh kok bisa pas banget! Jodoh nih emang. Semangat babe!!!!! Woohhhooooo

Gue liat jam dan kayaknya sih kalo dia konstan lari dengan waktu yang kayak gini, dia fix positif PASTI PB! Yes! Dia targetnya 3,5 jam. Pasti tercapai!

Nggak lama kemudian, giliran gue ikut lari. Start bareng orang-orang santai lainnya yang cuma mau ikut hore hore memeriahkan acara aja, lari 5 km. Pesaing gue banyak yang anak-anak kecil, orang tua dan orang-orang gendut. Wkwkakakakakak. Jadi tengsin sendiri…. tapi gapapa deh namanya juga usaha.

Begitu lari di mulai, rasa deg-deg an gue mulai hilang, diganti dengan rasa ingin bisa finish tanpa jalan kaki sama sekali. Jadi gue lari, lari, dan lari. Pemandangannya sih untung ok ya, pantai dan gunung di kejauhan. Bikin lari jadi nggak ngebosenin.

5 km kemudian, si perempuan yang males lari inipun finish tanpa berenti atau jalan kaki sama sekali. Hihihi bangganyaaaa….trus kebawa suasana langsung bercita cita pengen lari lagi 10 km bahkan mungkin 21 km and full Marathon someday.

Biasa, kebawa emosi sesaat…hahahahha

Setelah lari, gue mulai hang out di sekitar garis finish nyariin suami. Kira-kira nih dia antara udah finish dari tadi atao bakal masuk sebentar lagi. Gue sibuk celingukan sana sini. Mana ya dia? 15 menit berlalu, setengah jam berlalu, bahkan hampir sejam, loh kok gak ada di tempat finishers ya? Gue pun mulai panik. Nah loh, waktu PB targetnya udah lama lewat. Lewatnya mulai kelebihan jauh, tapi dia nggak ada. Oh my gosh, is he okay?

Gak mau berpikir negatif, tapi gue mulai mereka-reka situasi, mungkin dia keram kayak waktu lari marathon di Berlin, atau mungkin dia keram, atau mungkin keram. Kata keram terngiang-ngiang mulu.. adoh kasian suamiku kalo sampe keram di tengah jalan. 

Hampir 5 jam, 4 jam 54 menit tepatnya, JAUH banget dari target, gue liat dia sedang sprint menuju garis finish. Ya Tuhan terimakasih, akhirnya sampai juga dia. Pasti keram. Dang you keram!

 

Dia lari masuk finish bersama seorang cowok. Gue pikir ini cowok pasti sesama pelari Indonesia. Soalnya di Da Nang Marathon ini nyaris ga ada pelari dari Indonesia. Rata-rata kebanyakan dari Eropa, Amerika, Filipina, Cina, Jepang dan lokal Vietnam. Kalao nggak salah ada 37 negara peserta dengan total kurang lebih 5 ribu peserta- tapi orang Indonesia hanya beberapa aja.

Gue langsung samperin suami dan dia kenalin gue ke si pelari yang finish bareng tadi. Ternyata si pelari ini orang Vietnam bernama Tang. Dan dia kayaknya berhutang budi banget sama suami soalnya dia nggak berenti bilang thank u dan berkali kali melukin suami gue mulu. Gue ngikutin mereka ke tempat para pelari berendam es dan pijat, dan akhirnya suami gue cerita siapa sebenernya si pelari Vietnam itu.

 

“Di km 25, pas aku lagi lari dengan kecepatan yang oke banget – aku liat dia lagi duduk di pinggir jalan, nangis kesakitan. Aku ngeh dari awal bahwa tim medis di marathon kali ini hanya ada di km tertentu aja. Jelas nggak ada tim medis di km 25. Aku langsung kasian Babe, walau lagi kenceng lari, aku mutusin untuk berenti, bantuin dia, kasi pertolongan. At the end of the day, I am a physio, that’s what I do. I had to help him”

“Dia udah nggak sanggup lari lagi dan udah mau nyerah padahal ini marathon pertama dia. Aku bantu sampai kram kakinya hilang dan aku semangatin dia untuk tetap lari sampai finish. Aku bilang aku akan temani dan lari sama dia bareng sampe finish. At that point aku udah tau bahwa aku harus lupain target untuk dapet PB di maraton kali ini”.

Aku bengong dengerin ceritanya. Persis sebelum dia lanjutin cerita, tiba-tiba ada seorang pelari lain datengin suami, seorang pelari Jepang. Dia nyalamin suamiku dan bilang terimakasih banyak. Menyusul di belakangnya, seorang pelari bule entah dari negara mana, nyamperin suami dan bilang terimakasih. Mereka lalu ngobrol dan ketawa-ketawa beberapa waktu.

Suami lanjut cerita.

“Di km-km selanjutnya, sambil aku lari pelan sama si Tang, aku ketemu banyak banget pelari yang bertumbangan di pinggir jalan, kesakitan, rata-rata kram dan cidera – dan tim medis masih belom keliatan. Jadi aku bantuin mereka satu-satu, Babe”. Lanjut suami.

Dan dalam beberapa waktu kedepan, orang-orang yang ditolong suami dari berbagai negara satu-satu mulai nyamperin kita dan nyalamin suami sambil bilang thank you.

OMG, terharu aku.

Salut banget sama dedikasi suami yang memutuskan untuk mengorbankan PB dan memilih untuk stay true dengan profesi medis-nya dan membantu orang-orang yang nggak dia kenal sama sekali sepanjang rute. Pantesan dia finish hampir 5 jam. 

lari di danang marathon

danang marathon

Berkesan banget nih pengalaman lari di DaNang Marathon kali ini. My first international run (walau hanya ala-ala yaaaa hehehhe). There will always be a first time for everything right. And for my hubby, you are truly my HERO today, I am super proud of you and I love you more. A act of kindness will always leave marks.

Okeh cukup ceritanya. Sekarang waktunya jalan di pantai, foto-foto, minum air kelapa muda dingin dan makan enak to celebrate!!!!

everyone needs that moment to inspire and be inspired – olivelatuputty.com/blog @shiningliv

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Temen-temen yang udah baca silahkan TINGGALIN COMMENT DIBAWAH ya guys..Thank u!

dan yang mau baca tulisan jalan-jalan gue yang lain via email, di follow aja blog nya sekarang

write your email NOW. It's super easy and it's FREE

Tags:  ,

8 comments to Cerita Lari di DaNang Marathon – Vietnam

  • olivia  says:

    Saya olivia juga dari jepara mb Olive ditunggu travel cerita berikut

    • Olive  says:

      wahh Jepara… thank u for reading ya:)

  • Mama kayla  says:

    Nice
    Story

    • Olive  says:

      thank u Mama Kayla:)

  • rommy.S  says:

    baru denger ada kota Danang di Vientnam, saya baru nemu blognnya olive salam kenal

    • Olive  says:

      salam kenal juga… thank u for stopping by at my blog:) iya kota Danang recommended!

  • Ramadhan  says:

    Coach Matias salam ya mbak

    • Olive  says:

      halo.. thanks sudah membaca.. siap, disampaikan!

Post Your Comment

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.