Gunung Batur, the Climb!

batur

I can’t believe I just climbed a mountain. A real mountain! Not a tall one I know, but a real one! Oh I am so proud of my self!

Nggak percaya rasanya gue bisa mendaki sebuah gunung. Gunung beneran!! Nggak tinggi sih memang gunungnya..tapi beneran. Hehehe. Begitu turun dari pendakin Gunung Batur, gue hanya bisa menatap gunung besar di depan gue sambil mikir, gila ya, nggak pernah gue bayangin gue bisa mendaki gunung. Seneng bener rasanya.

Last week I was browsing for some possible holiday destination. I had beaches on my mind. Gosh, Indonesia is amazingly blessed with stunning places, they got me confused on which one to choose. While I was looking around, I stumbled upon this blog on Mount Batur trekking and I went… oh my, I got to do this!!! Forget the beach for a while and let’s climb a mountain.

Minggu lalu pas lagi ngerencanain perjalanan liburan berikutnya, gue lagi sibuk milih mau ke pantai barat atau timur Indonesia ketika kesandung satu artikel di satu website tentang pendakian ke Gunung Batur. Wah, jangan-jangan ada perubahan rencana abis-abisan nih dari pantai ke gunung. Gue memang selalu penasaran tentang kegiatan yang satu ini. Gue udah lama pengen mendaki Gunung Rinjani tapi belum tau kapan waktu yang tepat dan bagaimana caranya dan harus pergi sama siapa. Dan gue tau Rinjani itu tinggi, jadi gue berpikir untuk mencoba naik gunung lain dulu yang lebih rendah untuk percobaan bagi pemula kayak gue. Dan Gunung Batur sepertinya adalah kandidat yang sempurna untuk didaki. Dengan ketinggian ‘hanya’ 1717 meter (dibanding Rinjani yang 3726 meter), gunung ini pasti bisa gue taklukin. HEHE. Letaknya pun di Bali, tempat yang sudah sangat familiar buat gue.

I was forever intrigued actually with Mount Rinjani in Lombok. But that one is 3726 meters high. As a rookie, I need to climb a shorter one first, and Mount Batur sounds like a perfect candidate. It is only 1717 meters high, and it’s in Bali. Even better.

Setelah dibicarakan dan berhasil mendapat restu pacar buat mendaki, kita pun terbang ke Bali tanggal 20 Agustus dan menyetir mobil sewaan sejauh 70 km dari Kuta, melewati Ubud, ke daerah bernama Kintamani yang terkenal dengan kopi, jeruk, anjing ras-nya, danau yang luas, serta si Gunung Batur. Ternyata cukup jauh juga. Begitu sampai, mumpung masih terang, kita langsung mencari lokasi kaki gunung tempat posko pemandu pendakian berada, yaitu di Pura Jati. Gampang ternyata menemukan lokasinya karena ada petunjuknya disana sini. Untuk mendaki Gunung Batur, kita harus mendaftarkan diri di posko itu, plus membayar jasa pemandu yang akan diberikan.

batur

Mount Batur view from Kintamani

Harga paket pendakian sangat bervariasi. Dari paket daki gunung plus mandi air panas plus rafting, sampai paket singkat mendaki untuk melihat matahari terbit lalu turun lagi di rute yang sama. Kita memilih paket pendakian panjang yaitu mendaki dan menjelajah seluruh sisi gunung. Naik dari rute sebelah kanan, menjajaki tiga puncaknya, dan turun dari rute lain sebelah kiri. Untuk paket ini, harga yang berlaku di Bulan Agustus (high season) 2013 ialah Rp.300.000 per satu orang pendaki.  Jadi kalau naik berdua ya Rp.600.000 dan seterusnya. Dengan harga ini, kita dapat 1 orang pemandu berpengalaman dan makan pagi yang disajikan sambil melihat matahari terbit di puncak. Untuk low season, harga bisa turun sampai Rp.250 ribu per pendaki. Ini harga untuk turis Indonesia ya… nggak tau deh kalau turis bule sama atau beda harganya. Kalau mau lebih murah sebenarnya bisa yaitu dengan cara illegal, naik tanpa guide atau menyewa guide penduduk lokal yang bisa ditemukan lagi naik motor muter-muter sambil menawarkan jasa pemandu dengan harga Rp.100.000-an per pendaki. Cara nggak mau repot juga ada, yaitu dengan meminta orang Hotel tempat menginap diKintamani untuk menyediakan jasa pemandunya. Ah, tapi jangan ambil resiko seperti itu. Mending ke Pura Jati mengambil jalan resmi. Lebih aman.

I asked my boyfriend to accompany me, and he said YES! Hurrah! I know he is not into mountains, so I am grateful that he said okay. We flew to Bali and drove our rented car, passing Ubud area, all the way to Kintamani. It’s around 70km from the airport. Once we got there, we located the basecamp of the trekking guide’s association at Pura Jati Temple. They were really informative about the packages they provided and the prices as well. We chose the long trekking package for US$ 30 each, so it’s US$ 60 in total. We got 1 experienced guide and a set of breakfast served at the mountaintop for that.

batur

Malam sebelum mendaki, gue makan di salah satu resto yang katanya ngetop di kaki gunung, bernama Resto Apung, karena posisinya yang terapung  di Danau Kintamani. Restonya BUKA, tapi sepi dan gelap gitu. Kita disambut seorang mas-mas di kegelapan malam, dan diantar melewati jembatan bambu rakitan yang goyang ke tengah danau untuk memilih duduk di pondok apung mana. Pondok yang kita pilih-lah yang lampunya dinyalakan. Sisanya tetap dibiarkan gelap. Untung terbantu sinar bulan yang  cukup terang (besoknya akan bulan Purnama). Walau makanannya lumayan enak (terutama ikan gorengnya), asli ini tempat cocok deh untuk pembuatan film horror. Taro setan gelantungan di pojok pasti pas banget. Bunyi angin yang kencang, udara yang sangat dingin, danau luas di sorot sinar bulan, pondok-pondok tak berlampu, dan bayangan-bayangan disana sini.

There is an interesting story the night before the climb. We asked the locals to point us the best restaurant around and we went there for dinner. The name of the places was Resto Apung or Floating Restaurant. Nobody else was there when we arrived, we thought it was closed. But then a person came out and walked us to our bamboo hut floating on the lake. Our hut was the only one with lights. Thank goodness it was almost full moon that night, so it was quite a bright sky. But seriously, the shadows in the lake, the noisy wind, the moving hut, and some other factors really made us feel like having a dinner in a horror movie set. HA!

batur

the almost full moon and the lake

batur

our hut -Resto Apung

Pukul 3 pagi, kita bersiap mendaki di kaki gunung. Katanya rata-rata pada mulai naik jam 4 pagi, tapi gue memilih untuk berangkat lebih dulu. Suasana sudah mulai ramai dengan pendaki-pendaki yang sedang pemanasan dan kenalan dengan guide masing-masing. Guide/pemandu-nya di gilir acak oleh posko, sehingga baru ketahuan siapa mengantar siapa di pagi pendakian. Guide kita bernama Sugiyanto, laki-laki, dan berpengalaman 4,5 tahun. Orangnya ramah dan jalannya cepet! banget!

At 3 in the morning I was ready to climb! Mostly people start trekking at 4 but I just wanted to be early. I wanted to take my time and not be in a rush. We were introduced to our guide, Sugiyanto, with 4,5 years experience as   a Mount Batur trekking guide. The association put a rolling system for all of their guides so no guide can choose the client. Fyi, Sugiyanto is a fast walking guide!

batur

meet Sugiyanto, the guide with his orange guide uniform

Pendakian dimulai dengan jalan pasir yang berbatu tapi masih jalan tanjakan biasa selama kurang lebih 15 menit. Setiap orang termasuk gue memegang senter masing-masing untuk menerangi jejak yang akan diinjak. Setelah itu tanjakannya agak mulai sedikit sulit dengan menaiki tangga alam berbatu besar. Makin keatas, jalurnya mulai makin menantang. Gue mulai keringetan PARAH sehingga udara yang tadinya berasa dingin (mungkin sekitar 10 derajat celcius) menjadi tak terasa. Syal yang melingkar di leher pun gue copot. Naik terus, terus dan terus! Beberapa kali gue stop sebentar untuk minum dan mengatur nafas, tapi gue menolak untuk lama-lama berhenti karena nggak mau kehilangan irama pendakian. Setiap kali berenti, ada turis bule yang melewati kita. Gue kasih tau ya, bule itu emang langkahnya besar dan jalannya ngebut. Sekali kelewat, gue nggak akan bisa nyusulin lagi. Kata guide, bule terutama bule Prancis tuh kuat-kuat banget naik gunung. Terakhir dia membawa turis Prancis umur 78 tahun yang dengan santainya mendaki ke atas. WIDIHHH.

Me and my boyfriend, we were following the guide with our given torches. For the first 15 minutes, the trek was easy, but then it got harder and harder. It was a narrow path over some steep loose rocks. I was sweating like crazy but I refused to rest along the way to keep up the pace. I just stopped twice to drink and kept on moving, one climbing step at a time. While climbing I couldn’t help but notice the beautiful starry skies up above plus the bright (almost) full moon. It’s so pretty.

batur

this is me, walking UP

batur

almost top….

Di sepanjang jalan, gue ditemani taburan bintang di angkasa dan suara angin yang melewati pepohonan. Sesekali gue mencuri pandang ke langit karena kelap kelip bintang memang terlihat lebih jelas dari pegunungan plus sinar bulan (sehari sebelum) purnama yang indah. Semakin mendekati puncak, gue merasa makin fokus. Gue menolak untuk liat kearah puncak atau liat kebawah untuk mengira-ngira posisi. Lebih baik hanya memperhatikan setiap langkah yang gue ambil. Just one climbing step at a time. Si guide didepan terus menyemangati, dan si pacar tidak banyak bicara di belakang, hanya sesekali bilang “udah deket babe, come on!”. Gue terus bergerak naik menembus kabut pagi. Semangaatt!

One and half hours later, our guide said the magic line: “Welcome to the top!”

Setelah kurang lebih 2 jam pendakian, guide-pun mengatakan kalimat yang gue tunggu “Selamat datang di puncak!”

 

read the story of the mountaintop experience, the climb down, and photos (cerita tentang puncak berserta foto) click –> Me & Batur Mountaintop.The Puncak!

 

 So it’s true. Every mountain top is within reach if we just keep climbing – olivelatuputty.com -@shiningliv

8 comments to Gunung Batur, the Climb!

  • Rendi Kurniadi  says:

    meeting pointny mendaki tour guidenya di Pura Jati Toya Bungkah ya mba? dan itu bayar 300 ribu per orang include penginapan dan makan ya?

    • Olive  says:

      halo mas, thank u for reading. bener disitu tapi biaya nya nggak termasuk hotel dan makan. Tapi hotel sekitar banyak yang murah banget kok. untuk kondisi Gunung Agung sekarang, kayaknya lagi nggak mungkin bisa naik ke Gunung Batur ya Mas. Hope bisa back to normal soon dan bisa segera trekking ke sana ya:)

    • garayy  says:

      kemarin saya baru naik dan turun batur (selasa 26 sept 2017) , masih dalam kawasan rawan bencana 2 tapi aman2 saja. masih ada bule yg nyunrise 😀

      • Olive  says:

        awesome! thanks infonya:)

  • dessy  says:

    halo kak olive, mau tanya pas ke kintamani nginep di mana yah? makasih kak 🙂

    • Olive  says:

      hai juga Dessy, di sekitar Kintamani banyak banget hotel kecil terjangkau.. tinggal pilih, aku lupa sama nama hotelnya:( tapi waktu itu langsung dateng juga nggak pake booking…have a great time! (ps:maaf baru bales)

  • Anila Tavisha  says:

    Hai Mbak Olive..
    Aku selalu senang lihat semangat seseorang di pendakian pertamanya, dan berharap tidak akan kapok untuk pendakian berikutnya
    Tenang Mbak, pendakian gunung bukan dilihat dari ketinggiannya, tapi cerita yang selalu berbeda di setiap gunung yang didaki 🙂

    Stunning pictures, I’m going to climb Mt Batur this month perhaps, I’m going to backpacking along East Java and Bali, Bromo – Ijen – Mt Batur. Ini rencana gila, tapi sepertinya seru >_<
    Semoga bisa mengabadikan dalam foto yang keren seperti di blog ini 😀
    Nice blog

    • Olive  says:

      thank you for a positive comment on my blog. wishing you a wonderful time on your backpacking plan. i’m sure it will be fun cause it sounds like one. let me know where i can check out the cool photos you’ll take! take care!

Post Your Comment