Me & Batur Mountaintop. The Puncak!

mountbatur

Gue sampai di puncak Gunung Batur!! Tapi ternyata yang di sebut-sebut sebagai puncak Gunung Batur oleh guide bukanlah puncak yang paling tinggi. Puncak yang lebih tinggi harus didaki lagi kurang lebih setengah jam dengan kesulitan yang cukup tinggi. Tidak disarankan oleh guide untuk mendaki sebelum matahari terbit karena kondisi diatas bisa sangat berkabut sehingga pemandangan bisa tertutup. Tapi gue lihat ada aja yang tetap naik walau sudah diberitahu. Yang aman untuk bisa menyaksikan matahari terbit ialah ‘puncak’ yang sedang gue jejaki.

A hike of around 2 hours took me on top of Mount Batur to a height of 1717 metres (5600 feet). There’s a hut and some wooden long chairs for us to sit, have breakfast and wait for the sun to rise. But wait, I saw another mountaintop. “Can we get up there?” I asked my guide. Apparently THAT’s the summit a.k.a the real top and “Yes we will climb it later”, he replied. The problem was, from up there usually the fog gets really thick; people often missed the sunrise view. So the best place to watch the sun is where I was, the looking point.

Ada dataran cukup luas dengan beberapa kursi kayu panjang dipinggir jurang dan sebuah warung tempat makan pagi dimasak oleh seorang ibu (Ibu ini nggak tinggal disini. Dia naik turun tiap hari untuk kerja menyediakan makan. Hahaha, sadis kerjaannya!). Para pendaki yang membayar untuk makan pagi akan duduk manis lalu menunggu makan pagi dihidangkan berupa telur rebus, kopi/teh bebas nambah, serta setangkup roti berisi pisang penyet sambil menunggu matahari. Ternyata karena banyak energi terbuang, rasanya jadi laper banget. 1, 2 ,3 abis langsung makan pagi gue. Udara dingin gunung pun mulai masuk ke balik baju + jaket yang gue pake, dicampur basahnya keringat. Jadi kebayang ya, dinginnya jadi dobel. Dalam waktu setengah jam lebih, pendaki-pendaki lain mulai berdatangan dan memenuhi tempat itu. Katanya sih ada kurang lebih 200 pendaki hari ini. Satu hal yang langsung gue sadari, semua pendaki lain adalah turis bule. Gue doang nih orang lokal yang mendaki hari ini.

My breakfast that morning was a hard boiled egg, a banana sandwich and a cup of tea. I was hungry so I finished them in 30 seconds. HA! The cold weather started to creep in, since the sweat soaked my entire outfit. The food really helped to bring some warmth into my system. Around thirty minutes later, other hikers (around 200 other people) started to crowd the area and all of them were western tourists. I was the only local hiker ^^. We were all anxious to see the sunrise show, but it was extremely foggy and cloudy, some of us thought we had no chance.

mountbatur

Menurut prakiraan cuaca yang gue pelajari sebelum mendaki, pagi ini hingga pukul 05.59 cuaca akan sangat berkabut. Dan benar. Kabut tebal menyelimuti. Ada beberapa kali kabut hilang sehingga kita bisa melihat semburat langit berubah oranye kemerahan tanda matahari akan segera datang, tapi kemudian kabut gelap lagi. Semua yang diatas harap-harap cemas bisa nggak ngeliat matahari. Gue sih udah berdoa minta matahari terbit keliatan, jadi yakin pasti dikabulin deh. Plus diperkuat dengan prakiraan cuaca yang bilang bahwa jam 06.00 kabut akan hilang. Gue bilang sama para bule tentang info yang gue dapet dan mereka semua berharap info gue benar. Kurang lebih pukul 06.00 sedikit demi sedikit kabut mulai berpindah tempat. HORE! Semua langsung memanggil gue ‘the weather girl’. Ha! Matahari pun akhirnya datang perlahan menunjukkan keindahan warnanya, lengkap dengan langit berwarna pastel, Danau Kintamani di paling bawah, Gunung Abang dihadapan, Gunung Gede dibelakangnya, dan Lombok beserta Gunung Rinjani di kejauhan. Cantik sekali. Tuhan itu memang ajaib karyaNya.

You know, I did my homework before climbing. I checked the weather forecast and it said that up to 05.59, it’s going to be cloudy. After 05.59, it’s going to be clear. I also prayed hard asking God for a good sunrise show. So I kept my faith up and spread the good vibes to others. AANDDD, around 6 o clock, the fog started to fade and the clouds moved away. Here comes the sun!!! Everyone cheered and called me “the weather girl” .Photos opp time! The view was really beautiful with the lake below and Mount Abang, Mount Agung and Mount Rinjani clearly seen in front us. I praise God for His wonderful work.

mountbatur

mountbatur

mountbatur

Puas menikmati pemandangan, kita lanjut dengan turun sedikit untuk melihat kawah gunung. Untuk informasi, Gunung Batur adalah gunung volkanis yang masih sangat aktif. Gunung ini cukup sering meletus rupanya. Terakhir meletus di tahun 2000, dan di tahun 2009 sempat ada peningkatan aktivitas yang cukup berbahaya. Letusan yang paling parah terjadi di tahun 1926 sehingga menimbulkan banyak korban jiwa dan letak desa pun harus berpindah. Gue membuktikan sendiri bahwa gunung ini masih aktif dengan merasakan hawa panas dari banyak celah yang berasap disana sini. Serem juga sih. Melihat-lihat kawah ini juga diikuti cerita guide tentang beberapa waktu yang lalu ketika seorang turis Swedia jatuh kedalam kawah ketika sedang sibuk foto-foto, dan ditemukan dalam keadaan tak bernyawa. Harus ekstra hat-hati memang. Disitu ada juga sebuah gua besar berbatu di dekat kawah yang katanya merupakan rumah para monyet gunung. Tapi pagi itu tidak ada satu ekor monyet-pun yang berani keluar. Baguslah, gue nggak gitu suka ama monyet liar.

After that we were taken to see the mountain’s crater. FYI, Mount Batur is an active volcano. Mount Batur’s first recorded eruption was in 1804. The mountain was active from 1997 to 2000 with the worst eruption in 1926, and the last eruption in 2000, shooting ash 300 meters above the crater. In 2009, there was also an increased volcanic activity. Knowing that and watching some hot smokes spilled from a few cracks, it scared me a little bit. Our guide brought us a few feet into the crater, showing us rock shelves dripping with water and told us a story about how a Swedish tourist fell there and died. Okay, everyone shoud be really careful.

mountbatur

can u see the SMOKES?

mountbatur

Dari situ kita mendaki ke puncak yang sesungguhnya. Nggak gue sangka, trekking ke atas ternyata cukup sulit sehingga gue beberapa kali gue merangkak aja ke atas, sampai tangan kotor dengan pasir, tanah dan bebatuan kecil. Nafas pun harus diatur. Sadis! Pemandangan di puncak paling tinggi sudah terduga, yaitu keren banget!! Sampe juga ke atas!!! Woohoooo!

Dari situ kita lanjut ke jalan yang menurun tapi abis itu naik lagi ke puncak berikut. Ada satu bagian di Gunung Batur bagian puncak ketiga ini yang serem banget menurut gue, yaitu berupa jalan setapak sempit yang hanya bisa dilalui dengan sangat hati-hati oleh satu orang. Di kiri kanan adalah jurang dengan tumpukan batu yang siap menyambut. Disarankan untuk merangkak, gue memilih untuk jalan dalam posisi berdiri dengan ekstra pelan sambil jaga keseimbangan persis kayak sirkus. Ada satu momen disitu dimana gue ngerasa mungkin gue punya penyakit takut ketinggian sedikittttt, soalnya kaki sempet gemeteran dan keringet dingin keluar waktu ada di puncak setapak itu.

After that we did some more climbing to the summit. It was a bit harder than I thought. I almost lost my balance a few times and at some point, I was crawling up. But it was all worth it. The view totally got better up there. Moving to the third mountaintop, there was a narrow path fits only for one person. The cliff on its sides was pretty scary, but I braced myself and walked through. Awesome.

mountbatur

mountbatur

mountbatur

mountbatur

this is me and 180 degree view from the very top

mountbatur

dating on mountain top –> me and boyfriend. aw aw aw.. 😀

Ada satu kalimat yang keluar beberapa lama setelah menikmati pemandangan dari ketinggian: “Ini turunnya gimana ya?” Yap, PR banget memang turunnya! Susah dan ribet. Gue melewati jalur yang beda ketika naik, jadi nggak tau sama sekali harus berhadapan dengan apa ketika turun. Medan yang gue lewati berbeda-beda dalam 2 jam perjalanan turun gunung. Pasir, kerikil, batu besar, batu keras mirip karang dan lain-lain. Gue beberapa kali kesulitan banget sehingga harus turun ke bawah dalam keadaan meluncur pelan sambil duduk. Sama sekali nggak gampang dan melelahkan. Apalagi kaki harus terus menerus menahan berat badan selama turun. Lebih berasa nggak sampe-sampe ketimbang waktu naik. Gue juga sempet ketemu rombongan monyet gunung yang sempet dibicarakan tadi. Mereka bergerombol keluar dipimpin oleh seekor monyet putih sebagai pimpinan mereka. Gue cuma ngeliat dari jauh tapi, nggak berani mendekat. Sementara gue kesulitan, mau tau bagaimana cara guide kita turun? Dia LARI kebawah. Gila.

After spending as much time as we could at the top, my other questions was “how in the world we climb down from here?”. Man, it was a tougher job to do. It was a different route from the one going up, so I didn’t know what to expect. Sand, then rocks, then bigger rocks. It was pretty challenging for my knees to hold my weight constantly like that. I was just sliding down non-stop most of the time. Our guide was teaching my boyfriend and me how to actually running along the rim and sprinting down the loose slope. I was like “You go ahead. See you later!” HA!

mountbatur

bengong bentar before climbing down.

mountbatur

me and mr. guide, Sugiyanto

Matahari mulai makin tinggi ketika kita turun, turun dan turun, sampai akhirnya tiba juga di kaki gunung. Rasanya lega dan bangga. Gila, pertama kalinya nih. Gue nggak nyusahin pula! Pernah sih memang ke Bromo dan pernah juga naik ke atas Tembok Besar Cina. Tapi beda banget rasanya kalau naik gunung dari bawah dan menjelajah puncak gunung kayak yang gue lakukan di Gunung Batur ini. Gue sih nagih banget ya, moga-moga ada kesempatan lagi untuk trekking. Pengennya sih di masa mendatang gue meningkatkan standar dan mendaki Gunung Rinjani, Gunung Gede, Gunung Kinabalu dan Annapurna di Nepal! Amin. Ada yang mau bareng?

Two hours later, we made it. Safe and sound, happy, and seriously addicted (just me, not the boyfriend 😀 ). I right away started to plan another trekking trip to Mount Rinjani, Mount Gede, Mount Kinabalu and even Annapurna in Nepal. Oh, I must be going mad.  

 

 I lift up my eyes to the mountains…. where does my help come from?My help comes from the Lord, the Maker of heaven and earth <Psalm 121:1-2> olivelatuputty.com -@shiningliv

4 comments to Me & Batur Mountaintop. The Puncak!

  • fikriansyah  says:

    Yuk, klo mo baren, gwe sama cewe gw Juga pengen menikmati indahnya gunung” di indonesia

    • Olive  says:

      wah iya nih, udah pengen mendaki lagi tapi belom ada kesempatan. happy traveling for you and your girlfriend!

  • alidesta  says:

    ayo ka,, summer kita hiking 4 gunung sekaligus dalam 10 hari,kita ke sundoro,sumbing,merbabu,merapi,,yuk

    • Olive  says:

      trimakasih sudah mengajak!

Post Your Comment