Suku Leher Panjang, face to face

sukukaren

Salah satu bagian aktifitas dari ‘tur satu hari’ yang gue pilih di Chiang Mai Thailand di awal tahun 2014 ini ialah mengunjungi sebuah suku yang dikenal dengan “Suku Leher Panjang” bernama Suku Karen. Waktu untuk mengunjungi suku ini sebenarnya sangat sangat singkat tapi harus gue ceritain terpisah dari pengalaman gue yang lain karena punya kesan tersendiri.

Gue sejujurnya sangat penasaran dengan mereka, soalnya bentuknya kalo dari foto-foto tuh menarik banget dan menimbulkan tanda tanya. Beneran apa nggak leher mereka memanjang dan apakah kalau gelang di leher mereka di copot mereka akan lunglai dan mati? Mungkin rasa penasaran ini yang menyebabkan gue keukeuh nyempilin ini ke agenda gue. Gue udah pernah berkunjung ke Suku Dayak dan melihat suku dengan telinga panjang, kali ini waktunya untuk leher panjang.

sukukaren

Begitu sampai di wilayah tempat Suku Karen berada, kesan pertama yang gue dapet ialah tempat ini ya sebuah tempat wisata yang diatur dan bukanlah perkampungan alami seperti yang gue bayangkan. Didepan ada tempat parkir, WC, tempat orang jualan es krim, dan tanda panah dari kayu yang menunjuk arah masuk. Di samping kanan ada sebuah tempat bayar karcis masuk sebesar Rp. 185 ribu per orang!! MAHAL banget ya!! Untung gue nggak perlu bayar lagi karena sudah merupakan bagian dari paket. Didalamnya, terdapat kios-kios yang berjejer, masing-masing kios ditempati satu dua orang perempuan dengan variasi usia yang berbeda. Mereka semua memakai gelang berwarna emas di leher mereka. Mereka memakai baju adat warna warni dan beberapa diantara nya sibuk bekerja, menganyam kain yang nantinya akan dijual kepada wisatawan macam gue.

sukukaren

can you tell which one is real and which one is fake? 😀

sukukaren

Sedikit dulu ya, kita bahas sejarah mereka. Suku leher panjang ini sebenarnya bukan penduduk lokal Thailand melainkan pengungsi yang datang dari Burma (Myanmar) di awal tahun 1990an. Banyak cerita berbeda yang merujuk ke asal muasal gelang itu bisa melingkar di para wanita ini. Ada yang mengatakan bahwa itu dilakukan untuk menunjukan kecantikan dan identitas suku mereka, tapi ada juga yang mengatakan kalau itu dilakukan karena para wanita yang lemah itu berusaha menyelamatkan diri dari serangan harimau yang berusaha menggigit leher mereka ketika para lelaki sedang keluar kampung untuk mencari nafkah. ENTAH mana yang sebenarnya benar. Yang jelas, para wanita ini diharuskan untuk memakai gelang leher sejak mereka berusia 5 tahun. Semakin bertambah usia, jumlah gelang pun ditambahkan. Jumlah maksimal gelang yang ditaruhkan ialah 35 buah.

Okey, balik ke Suku Karen. Di kios pertama, gue berhenti untuk ngobrol dengan seorang gadis muda berusia 20 an dengan adiknya yang masih berusia 8 tahun. Mereka ramah. Gue nyoba pake gelang mereka di leher yang sudah mereka siapkan untuk dicoba turis. Ini jelas gelang yang berbeda, tapi beratnya katanya mirip, yaitu sekitar 4 kg. Nggak nyaman sama sekali. Nggak kebayang kalau gue harus memakai gelang ini selamanya seperti mereka. Gue juga foto sama mereka dan pastinya menunaikan kewajiban yaitu membeli salah satu selendang anyaman yang mereka jual seharga Rp. 100 ribu per potong.

sukukaren

Dari situ gue jalan keliling “desa” mereka yang terdiri dari kurang lebih 25 kios dan 2 rumah gubuk. Fix, ini desa buatan. Makin ke dalam, gue ketemu ibu-ibu tua yang lehernya benar-benar terlihat panjang. Benarkah leher mereka memanjang? Banyak orang yang berteori bahwa leher mereka sebenarnya tidak memanjang, tetapi tulang pundak mereka yang menurun sehingga menimbulkan ilusi bahwa leher mereka panjang. Tapi kalau ditinjau secara medis, justru tulang pundak tidak bisa turun, dan benar, leher justru bisa memanjang keatas karena memiliki elastisitas tersendiri. Kurang lebih dari posisi melengkung ke posisi lurus (menjadi lebih panjang). Fakta ini dikuatkan dengan foto-foto yang gue liat di salah satu kios. Di foto itu gue liat beberapa wanita tua yang puluhan tahun memakai gelang, melepas gelang mereka, (mereka tetap hidup – pertanyaan gue yang lain terjawab hehe) dan leher mereka benar-benar menjadi panjang.

sukukaren

Satu fakta lain yang terngiang di kepala gue sampai sekarang. Selain gadis muda dan adiknya yang ramah yang gue temuin di awal tadi, sisa penduduk Suku Karen ini sangat jutek. Apalagi gadis-gadis muda lainnya. Mereka pelit senyum, banyak menunduk, dan terlihat marah kalau gue foto. Walau dari mulut mereka keluar kalimat “Silahkan mampir beli selendang”, mata mereka bicara lain ke gue, “Kami sebenarnya nggak mau disini, apalagi difoto-foto kayak lagi dikebun binatang. Kami terpaksa ada disini. Go away!”.

sukukaren

Mendadak gue merasa tidak nyaman dan langsung pergi keluar dari desa buatan untuk turis ini. Gue yakin banget kalau disini mereka memakai gelang di leher bukan lagi untuk melestarikan budaya, tapi untuk dieksploitasi demi uang. Gue bisa lihat cara mereka memandang gue, apalagi yang seumuran sama gue. Mereka bener-bener terlihat tersiksa. Gue banyak berpikir ketika balik dari kunjungan super singkat ini. Kalau tur ini ditiadakan, mereka otomatis kehilangan mata pencaharian andalan. Tapi kalau diteruskan, sangat tidak adil untuk memperlakukan dengan paksa terhadap anak-anak muda yang sebenarnya bisa memperoleh masa depan yang lebih baik ketimbang memakai gelang berat dileher, terjebak di sebuah desa buatan dan difoto oleh turis penasaran setiap harinya. Lalu?

guys, you can subscribe to my blog! and for comments, please scroll down some more…thank u:)

 

Somewhere in the world, there is always a dilemma to face -olivelatuputty.com – @shiningliv

Subscribe to Blog via Email

Enter your email address to subscribe to this blog and receive notifications of new posts by email.

4 comments to Suku Leher Panjang, face to face

  • Irene  says:

    Mau tanya, waktu ke chiang mai itu ikutan tournya darimana ya? Bisa kasih tau detaul nya nggak?

    • Olive  says:

      di Chiang Mai cuma sekali aja ikut tur dari hotel ditawarin, random, nggak inget namanya apa.. sisanya jaan-jalan sendiri aja:) have fun di Chiang Mai!

  • dewi  says:

    hai mb, kebetulan aku penasaran bgt sm suku karen, awal nopember aku ke bangkok & cr flight ke chiang mai. klo dr pengalaman mb kmrn, bs ke karen long neck ikutan tour atau jalan sendiri sewa mbl? klo ikut tour apa aku bs tau brp rate & web tour agentnya mb? makasiii

    • Olive  says:

      halo mb Dewi, waktu itu aku ambil tur yang ditawarin hotel karena lebih ringkas aja dan langsung ke beberapa tempat berbeda dengan harga 400 ribu per orang. Please read my other writing on my blog: http://www.olivelatuputty.com/blog/a-cute-date-with-gajah/ dan have a fun trip Chiang Mai!

Post Your Comment