Pengalaman Turun ke Klingking Beach Nusa Penida

 

Ini cerita tentang pengalaman kita di sebuah pantai cantik di bagian barat Pulau Nusa Penida bernama KLINGKING BEACH. Pantai ini terletak jauh dibawah sebuah bukit tebing, sampai-sampai orang-orang yang sedang berada dipantai hanya terlihat seperti titik-titik hitam yang bergerak. Kecil sekali.

Gue dan suami sampai ke pantai ini tepat tanggal 1 Januari 2018, dan langsung jatuh cinta ngeliat bentuk bukit tebingnya. Unik banget! Dari tempat kita berdiri bentuknya terlihat seperti kepala seekor dinosaurus! Gue udah sangat sering ngeliat tempat ini dari postingan banyak orang di instagram. Quite happy to finally see it with our own eyes. Really really absolutely beautiful!

Belum pas kita melongok ke bawah ke arah pantai, warna pantainya sangat cantik. Suami langsung bertanya ke Guide kami tentang apakah bisa kita berdua turun ke pantai dibawah sana.

Pak Wayan, our guide, mengatakan bahwa kita sebenernya bisa turun ke bawah – tapi akses kebawah licin dan sangat berbahaya. Belum lagi dibutuhkan waktu yang lama. Untuk turun bisa lebih dari 1 jam, dan untuk naik lagi bisa jauh lebih dari 1 jam.

Bukannya ciut, suami malahan makin semangat menerima tantangan. Challenge accepted ! PADAHAL, kami berdua beberapa hari sebelumnya baru saja naik turun bukit dengan pengalaman sangat mendebarkan di Air Terjun Tumpak Sewu Lumajang (Baca ceritanya disini).

Mirip banget kondisinya! Jalan terjal berbahaya SANGAT JAUH ke bawah bukit dan jalan DITUTUP oleh pengelola karena rusak akibat musim hujan. Exactly the same! Only a few days ago! Don’t we learn anything??

Gue jujur agak ragu karena pengalaman lumayan traumatis di Lumajang kemaren. Tapi gue ingat betapa kengerian itu terbayarkan begitu tiba di bawah dan melihat pemandangan cantik di depan mata. Plus di dalam diri ada gejolak adrenalin dan ada perasaan yang mengatakan “kalau kemaren bisa, pasti yang ini juga bisa!”.

So I said OKAY to the challenge.

Gue liat dari atas, ada kurang lebih 3-4 orang lagi berlarian dibawah sana. They look so happy. Sementara turis-turis lain diatas sini hanya bisa ambil foto dari kejauhan, dibawah sana bisa mereka bisa bebas berlarian – bermain bersama ombak. YUK, turun!

Waktu kita mau turun, HUJAN TURUN cukup deras, karena langit memang sudah agak mulai gelap sejak kita datang dan waktu sudah menunjukkan pukul 3 sore. Ah, niat sempat ter urungkan. Kita berdua mampir di sebuah warung untuk makan siang – padahal tadinya bekal makan siang itu akan dibawa turun dan dinikmati dibawah. Untungnya, hujan hanya berlangsung kurang dari 15 menit. Kitapun liat-liatan : “Jadi deh, turun!”

Kita berbelok kiri dari tempat kerumunan turis sedang selfie, dan melewati papan yang menyatakan bahwa resiko nekat turun harus ditanggung sendiri karena jalanan ditutup. Beberapa orang melihat kita dengan tatapan “Are u guys serious that u wanna climb down there?”. But we made up our mind already.

Kita pun mulai turun.

Pengalaman Turun ke Klingking Beach Nusa Penida

Baru melewati beberapa “anak tangga” (berbentuk tanah licin dan akar pohon), gue langsung tau bahwa medan ke bawah akan sangat serem. Makin kebawah, makin susah jalurnya.

Di awal perjalanan kita berpapasan jalan dengan rombongan pertama, 5 orang bule yang lagi mendaki naik. Mereka basah kuyup keringetan.

How was it?” tanya kita.

Half way down was so hard man, it was crazy” jawab mereka. NAH LOH. Kok gitu jawaban bule-bule ini. Hati mulai ketar ketir. Tidak lama kemudian kurang lebih sepertiga perjalanan, kita berpapasan lagi dengan rombongan kedua, beberapa anak muda asal Malang. Mereka sepertinya tidak jadi turun ke pantai bawah dan dalam perjalanan balik ke atas.

“Kenapa nggak sampe bawah mas?” tanya suami.

“Nggak jadi mas, jalurnya ngeri, vertikal banget, nggak berani”, kata mereka. “Ati-ati aja mas jalannya pelan-pelan” imbuh mereka sambil berlalu.

Pengalaman Turun ke Klingking Beach Nusa Penida

Gue pun langsung mendadak keringat dingin. Hah? Sepertiga jalur yang barusan di lewatin aja udah susah banget, nanti ada yang lebih susah lagi?”. Gue ngintip ke arah jurang di samping dan langsung berujar “Babe, nggak usah jadi kebawah deh…. aku takut… sampe sini aja ya foto-foto, abis itu naik lagi. Jangan ambil resiko lagi ah”. Suami memandang terlihat sedikit kecewa namun dia mengangguk.

Kurang lebih 10 menit kita mondar mandir disitu menikmati pemandangan sekitar (ini adalah bagian cukup datar dari bukit ini), kita bertemu rombongan ketiga. Pasangan bule ini baru saja naik dari jalur turun di sebelah kanan bukit. Mereka tampak kelelahan dan berenti sebentar untuk istirahat.

It was so treacherous(red: sangat berbahaya) kata mereka sambil terengah-engah. “But it’s worth it” tambah mereka lagi. “Just be careful because half way was very hard”. Mendengar komentar ini gue makin ketakutan. “Babe, let’s go back up”!!!

Ketika gue bilang itu dengan suara cukup keras, si bule perempuan yang mendengarnya, berbalik menatap gue sambil tersenyum dan berkata Oh honey, I am a 50 year old woman and I did it!!! If I can do it, you can do it too!!” (red: saya 50 tahun dan saya bisa turun ke bawah dan naik lagi – kamu pasti bisa juga)

AHHH!! Rasanya persis seperti ditampar di muka! Yes of course I can do this. Bukankah tadi gue mau turun juga karena gue yakin gue bisa melakukannya? Kenapa gue mudah ragu dan berubah pikiran ya? Gue langsung membulatkan tekad dan bilang ke suami, “Babe, jadi deh, Ayo kebawah”. Suamipun tersenyum.

Masuk ke 2/3 perjalanan, jalurnya semakin edan. Ada pegangan sih kanan kiri, tapi banyak pegangan yang sudah copot, jadi bahaya banget. Setiap kali kita pegang sebuah bambu misalnya, kita harus pastikan bawah bambu itu kuat, bukan bambu lepas yang malah bisa bikin kita jatuh. Ada beberapa spot yang tegak lurus kebawah dengan jalur turun berupa jejak di bukit batu. Mirip kayak lagi panjat tebing rasanya.

Ada momen dimana kita berdua berdiri sambil kebingungan gimana caranya bisa turun lebih jauh. Mau naik balik keatas juga udah nanggung. Liat-liatan dan saling nanya “Now what??” Hahaha.

Gue juga udah prihatin ngeliat celana yang gue pakai, soalnya udah kebayakan turun sambil duduk menyeret diri kebawah, sampai-sampai celananya mulai robek sana sini. (Ujung-ujungnya si celana dibuang karena udah nggak layak pakai lagi  -padahal baru beli dan dipake sekali. Lumayan juga harganya. HUH!!😢)

Okay lanjut cerita ya. Di tengah jalan, HUJAN KEMBALI hadir. Kita berdua duduk pasrah dibanjur hujan yang untungnya hanya sebentar. Tapi jalur makin susah karena menjadi semakin licin.

Disitu kita ketemu rombongan keempat, Mereka dari atas mau kebawah – sama seperti kita – dan mereka bergerak cukup cepat, mau melewati kita (sambil bawa gitar!! jagoan!). Sesaat mereka berhenti untuk menyemangati kita berdua lalu terus melaju.

AYO semangaaattt Mbak, semangat Mas!

Makin lama pantai terlihat semakin dekat, semakin dekat, dan beberapa langkah terakhir menuruni 6 buah anak tangga bambu, guepun menginjak pasir. Hampir nangis rasanya! YEAY puji TUHANNNNNN….

maap…muka angus kebakar matahariiii

Hati rasanya penuh kebanggaan, seperti kayak baru menangin pertandingan tinju. Hahaha…. Nengok ke atas, gue sadar “Buset, jauh banget yak”. But we made it here!

Kita berdua pun menyapa rombongan keempat yang tadi sudah tiba duluan dan langsung mengambil spot kosong di kiri pantai. Saatnya menikmati kemenangan, guling-guling di pasir hahahahahhaa.

Suami gak bisa menyembunyikan rasa excitednya. Lari sana lari sini kayak anak kecil. Kejer-kejeran sama ombak walau akhirnya memutuskan untuk nggak berenang jauh karena ombak cukup besar dengan arus yang sangat keras sehingga agak berbahaya. Kalau bawa papan selancar sih mungkin berani masuk air lebih dalam.

Btw, pasir di pantai ini agak aneh teksturnya. Kita taunya belakangan setelah balik ke mobil bahkan pas sampai di hotel. PASIRNYA LENGKET!! Saking lengketnya, mandi di pancuran nggak bisa membuat pasir lepas dari badan. Udah di gosok sepenuh hari masih aja nempel loh di kulit. Ajaib banget asli!!!! Mandi sampe lamaaa banget baru bisa berasa bersih.

Gue juga hepi banget ada dibawah sini. Seru aja rasanya ketimbang cuma numpang foto doang diatas sana. Feels like only the cool people and the big boys get to be down here. But seriously tho, jalurnya beneran not for faint hearted.

Btw, setelah beberapa lama ngaso dibawah (plus foto-foto banyak banget), kita pun mendaki kembali ke atas.

Tanpa diduga, mendaki ke atas jauh lebih cepat dari pada turun. Gue udah tau medan, jadi terus bergerak maju tanpa menengok ke bawah. Naik naik naik naik dan naik. Kuncinya cuma satu, fokus. Pastikan setiap pegangan solid dan keep on climbing hingga akhirnya bisa berhasil sampai kembali di atas.

Diatas, sambil meminum air kelapa muda, gue berpikir bahwa ada beberapa pelajaran kehidupan yang gue pelajari dari pengalaman ini:

PERTAMA, TEKAD. Jika kita sudah menetapkan tujuan yang ingin kita capai dalam hidup, kita harus punya tekad untuk melangkah. Just do it. Ambil keputusan untuk mengambil langkah pertama dan percayalah akan ada jalan untuk bisa sampai kesana. Jalannya mungkin tidak mudah, atau bahkan terlihat mustahil untuk bisa ditempuh. Tapi kalau kita terus berjalan, kita akan tiba disana.

KEDUA, PILIHAN untuk mendengar. Sepanjang jalan, akan kita temukan suara-suara di sekitar kita. Ada suara sumbang. Ini adalah suara negatif yang membuat kita kehilangan semangat. Suara ini meyakinkan kita bahwa jalannya sulit dan tidak bisa ditempuh. Kalau kita memilih untuk mendengar suara ini, kemungkinan besar kita akan gagal dalam mencapai tujuan. Tapi ada suara lain yaitu suara motivasi. Sangat beruntung jika kita bisa mendengar suara ini. Ini adalah suara positif yang mengingatkan kita akan tujuan dan visi kita yang mula-mula. Suara ini juga akan menguatkan kita untuk terus melangkah dengan pasti. Selalu pilih untuk mendengarkan suara ini. It’s our choice to make. Jangan biarkan suara sumbang menghentikan langkah kita.

KETIGA, FOKUS. Fokus membuat kita tidak gampang berubah pikiran dan tidak gampang ciut ketika masalah datang. Kalau tidak fokus, kita bisa mudah berubah pikiran karena ragu dan takut di tengah jalan. Dan itu hanya akan menghambat, memperlambat waktu bahkan bisa menghentikan langkah kita. Kalau kita terus fokus, hasil akan lebih cepat kita capai. Jangan sampai gagal fokus.

KEEMPAT, TENANG. Ini gue alami dalam perjalanan mendaki ke atas melewati batu karang terjal yang vertikal. Ketenangan membuat kita bisa tidak mudah dikuasai ketakutan. Ketenganan membuat kita bisa berpikir jernih ketika melangkah. Ketenangan pun membuat kita mengakses suara hati kita dengan lebih mudah. Dalam hal ini, suara hati itu ialah bisikan dari Tuhan yang mengatakan “Don’t worry Olive, it’s gonna be okay. You will be fine, I got you. You are safe”. Ketika kita tenang, kita juga lebih cerdas dalam memilih jalur yang kita ambil. Pegangan mana yang goyah, mana yang kokoh.

KELIMA, MEMANDANG KE DEPAN. Dalam posisi naik di tebing, sangat tidak bijaksana untuk terus menengok kebelakang. Menengok ke belakang hanya akan membuat rasa takut yang berlebihan – dan bisa-bisa gagal naik. Memandang kedepan membuat kita bisa terus melangkah tanpa diselimuti ketakutan untuk jatuh. Ini juga berlaku dalam hal masa lalu. Terus menengok ke kegagalan di masa lalu ketika sedang berusaha mencapai masa depan yang lebih baik akan sangat berbahaya untuk kita. Keep your eyes on the prize not on the past.

KEENAM, STEP by STEP. Jalani saja langkah demi langkah. Jangan gegabah dan tekuni langkah demi langkah itu. It will lead you to your goal eventually.

Ekstra nih satu lagi :

KETUJUH, A GOOD COMPANY.  Nggak harus berarti pacar atau suami/istri – tapi pastikan memilih teman atau lingkungan pergaulan yang sehat, positif dan suportif. Karena orang-orang yang tepat akan membantu kita menuju sasaran, sedangkan pergaulan dengan orang yang salah kemungkinan besar akan membuat fokus kita hilang. Orang yang sama-sama mau maju dan optimis akan saling membantu ketika melangkah bersama. Choose who you surround yourself with! 

Okay guys, itu aja sharing kali ini. Semoga berguna ya bacaannya. Hahaha tumben banget nih nulis pengalaman travel jadi dalem begini. Tapi pas banget soalnya di tanggal 1 Januari gue ngalamin ini dan di hati langsung nangkap rhema/makna yang gue bagiin diatas. Walaupun kalian mungkin baca tulisan ini sudah di tengah atau akhir tahun dan keadaan lagi nggak mudah untuk kalian – tapi jangan menyerah. Tetap semangat ya dalam mencapai tujuan kita!!

Thank you for reading tulisan gue tentang Pengalaman Turun ke Klingking Beach Nusa Penida ini ya guys, and silahkan tinggalin komentar kalian dibawah ya. Jangan cuma dibaca doang dong. Hehehe… I also wanna read pendapat dan cerita kalian. Salam kecup dari Nusa Penida – Bali.

For more stories, just follow my blog

It's easy!

write your email here.

In life, you gotta challenge yourself, learn new things, and keep on growing –olivelatuputty.com/blog – @shiningliv

 

 

 

Tags:  ,

16 comments to Pengalaman Turun ke Klingking Beach Nusa Penida

  • rita  says:

    berkali kali ke Bali kok ya belum pernah kesini liv makasi untuk foto-foto keren nya

    • Olive  says:

      aku juga kok berkali kali ke bali baru akhirnya bisa mampir:)

  • uki 209  says:

    bener-bener jadi pengen kesinhi mba gara-gara baca ini

    • Olive  says:

      hi Uki.. yes, lain kali ke bali jangan lupa kesini ya:)

  • Adi Sakti gmail  says:

    saya br baca kak, kan emailnya masuk ke saya dari dulu mau kesini nih bagus banget pemandangannya tp serem juga ya baca jalan kesananya

    • Olive  says:

      hi Adi, makasih udah subscribe and reading ya… iya bagus tapi serem memang hehehe

  • rahma  says:

    ternyata bali punya pantai cantik sekali ya..tetap menulis ya tempat cantik lain dimana mana

    • Olive  says:

      thank u Rahma.. yes i will keep on writing!

  • Ryan Maulana Rizky  says:

    Olive Gue pernah kesini!! Belum berubah yaa Dan disana orang-orang pada bugil, gue pun ikutan Hahaha. Pengalaman luar biasa

    • Olive  says:

      hahahahah gokil Ryan… gue sih masih pake baju kemaren.. wagelasih, lo pasti gak akan lupa selamanya tuh kalo ikutan bugil hahahah

  • E. manaju  says:

    Oliv boelh minta nomore guide nya di Penida thanks

    • Olive  says:

      halo.. thanks for stopping by at my blog.. sayangnya aku udah nggak simpen nomor guidenya… di internet udah banyak banget kok tour ke Penida yang aman dan murah… semoga nemu yang cocok yaa..

  • Kiki  says:

    Seru sekali mbak Ol ceritanya aku mau ke bali bulan depan

    • Olive  says:

      hi Kiki.. thanks for reading ya… wah have fun ya bulan depan di Bali…

  • Frederick Johannes  says:

    So inspiring! Bikin langsung pengen cabs ke Penida ❤

    • Olive  says:

      thanks for reading brother:) yess!! LETS!!

Post Your Comment

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.