My encounter with Vatican City.

Asap putih mengepul dari cerobong asap Sistine Chapel Vatican, yang berarti telah terpilihlah seorang Paus baru, seorang Argentina bernama Jorge Bergoglio. Tanggal 13 Februari lalu, Paus sebelumnya, Emeritus Benedict XVI mengumumkan pengunduran diri dari jabatannya karena alasan kesehatan. Ngebaca berita ini, jadi inget untuk nulis tentang kunjungan singkat gue di Vatican City 2 bulan lalu.

With a puff of white smoke from the chimney of the Sistine Chapel, a gathering of Catholic cardinals picked a new pope, the cardinal from Argentina, Jorge Mario Bergoglio. On February 13th 2013, there was a huge shock for the Catholic Church when its leader, Pope Benedict XVI resigned. It is the first time a pope has resigned in nearly 600 years. Reading this news reminds me to write my brief visit to Vatican City 2 months ago.

Vatican adalah negara terkecil di dunia, hanya sebesar lapangan golf, yang terletak didalam kota Roma, Italia. Jadi otomatis kalo lagi jalan-jalan ke Roma, wajib mampir ke Vatican City. Sebenarnya kalau lagi ada di tengah kota Roma, jalan pelan-pelan juga pasti sampe sih ke Vatican City. Tapi kalau mau cepat tinggal naik kereta aja. Naik kereta jalur A (warna merah) kearah Battistini dan turun di Ottaviano/San Pietro. Kalau dari Termini (stasiun utama Roma) hanya 10 menit saja. Bentar banget ya…

Maybe you all know that Vatican City, the headquarters of the Roman Catholic Church with 1,2 billion members worldwide, is the world’s smallest country. It is only the size of an 18- hole golf course. It is located internally within the city of Rome, Italy. Well, I was in Rome, so I must go there. I took metro line A to Ottaviano-San Pietro (10 mins journey), and there I was.

the St.Peter statue and the bird.

Turun di Ottaviano, gue tinggal jalan lurus ngikutin petunjuk dan sampai deh di dinding Vatican. Disekitarnya banyak banget orang jualan oleh-oleh dan tas-tas merk yang KW. Ada satu tas yang lucu banget dijual murah, gue ‘terpaksa’ beli dulu. Hehehehe.. Jadi kerepotan sih jalan ke Vatican bawa-bawa plastik, tapi untungnya ada tempat penitipan barang yang memang khusus disiapin untuk orang-orang yang mau masuk ke gerejanya. Tripod gue juga nggak boleh dibawa masuk dan harus dititip.

I walked straight from Ottaviano exit to Piazza Risorgimento then along the Vatican Walls and finished in St.Peter Square. I stopped to buy this cute green bag on the way. Couldn’t help it. It was super cute and cheap. HA.

Begitu masuk ke dalam St.Peter Square -pelataran utama Vatican-, rasanya langsung merinding. Akhirnya sampai juga disini. Ini memang negara kecil, tapi kuat banget. Ini adalah wilayah berdaulat Tahta Suci(pemerintah pusat) dari Gereja Katolik yang memiliki lebih dari 1,2 milyar orang penganut di seluruh dunia. Penduduk Vatican City – nya sendiri, hanya kurang lebih 900 orang, dan itu terdiri dari Paus, suster, pastur dan tentara penjaga Vatican yang berasal dari Swiss (Swiss Guards). Mereka tinggal di sekitar Vatican, tapi nggak ada satupun yang permanen. Selalu berubah-ubah.

There are around 900 residents of Vatican City, and none of them are permanent. The population of this tiny area, which surrounds St Peter Square is made up of priests, nuns, guards, high-ranking dignitaries and, of course, the pope, and is constantly changing.

Di St.Peter Square inilah terdapat St. Peter’s Basilica yang adalah Gereja terbesar di dunia. Gedungnya megah berwarna krem keemasan. Keliatan langsung jalur panjang orang-orang yang mengantri untuk bisa masuk kedalam. Semua orang yang masuk harus berpakaian rapih dan melewati ditektor logam yang ada. Begitu gue sampai didalam, omg, ini gereja gede dan spekta banget. Isinya penuh dengan ukiran, lukisan, patung, monumen, mosaik, dan karya seni detail yang sadis kerennya. Yang paling menyolok buat gue ialah kuburan Rasul Petrus yang ada disitu. Rasul Petrus dianggap sebagai Paus pertama untuk agama Katolik. Ketika ia meninggal, dia dikubur di altar utama gereja ini, karena itu nama gereja ini ialah St. Peter (Rasul Petrus). Ada beberapa makam didalam gereja ini, yang menyebabkan auranya mistis banget kalau digabung dengan kehadiran patung-patung raksasa yang berasa ‘hidup’. Asli, merinding.

I stood there at St Peter Square in awe. Right in front of my eyes was the largest Church in the world, St. Peter Basilica. I took a line to get in to the church with hundreds of tourists that day. There is no entry fee for St Peter’s Basilica. I only need follow the dress code, pass the security point, and leave my new bag plus my tripod at the bag check, situated at the entrance of St. Peter’s Basilica, next to the Official Audioguides Desk. Once I got inside, I had goosebumps all over. How come I not? This place is crazy. It is one of those places you have seen many times in movies and books, but when you see it in person it is magnificent. The size is massive, filled with so much history, unbelievable architecture, a large number of sculptures, mosaics, monuments and other works of art. The ceilings, the walls, and even the floors include such detail. Under the main altar is the tomb of St Peter. Believe me, I think most of the statues I saw inside were ‘alive’, if you know what I mean.

me, inside the Church

Sejam didalam rasanya cukup buat gue. Saatnya untuk naik keatas. Disamping gereja, ada lift yang bisa ngebawa gue keatap gereja. Dengan ngebayar sekitar Rp. 88.000, gue sampai di kubahnya gereja. Dari kubah, kita bisa melihat semua aktifitas di dalam gereja dari atas. Ada puluhan suster dari negara-negara lain yang berdiri bareng gue di atas. Mereka tampak sangat menghayati moment mereka ada disini. Beberapa dari mereka menitikkan air mata. Terharu liatnya….

Spending an hour inside, I took the elevator up to the roof level (I paid 7) and climbed the remaining steps to the top of the Dome. I enjoyed the view from the gallery inside the dome looking down into the basilica. I met some Nuns coming from different parts of the world as they were soaking the moment of being there. Their expressions and dropped tears were just priceless to witness.

my moment shared with the nuns.

Keluar keatap, gue bisa melihat pemandangan kota Roma dari sudut yang berbeda. Untung banget di hari gue dateng, nggak terlalu banyak turis seperti biasanya. Jadi suasana sedikit lebih santai dan bebas. Diatas. ada satu tempat jual kopi dan es krim, dan ada satu tempat jual oleh-oleh. Gue masuk ke dua-duanya. Beli kopi seharga satu euro (Rp.12.500) dan beli oleh-oleh rosario. Pilihannya sangat variatif dan relatif terjangkau. Banyak banget rosario bergambar Paus yang waktu itu masih berdaulat, Emeritus Benedict XVI, tapi gue milih rosario yang simple aja.

Back on the outer part of roof, I had access to restrooms, water fountains, a gift shop (bought some authentic and reasonably priced rosaries) and a coffee bar. There is a great view to all Rome from up here as well. Spectacular.

view from the top of St Peter Basilica

Turun dari atas, gue ketemu dengan beberapa ‘Swiss guards’ dengan baju khas mereka. Mereka pasti nggak nyaman diliatin dan difoto-fotoin. Ya tapi mau gimana lagi. Susah banget untuk nyuekin mereka. Bajunya kocak banget warnanya dan mereka ganteng-ganteng pula. Gue suka banget cowok Swiss! 😀  Mereka ini penjaga keamanan kewarganegaraan Swiss, beragama Katolik, belum menikah, sekolahnya minimal setingkat SMA, jadi umurnya masih muda2, dan memiliki keahlian militer. Dengan gaji yang nggak terlalu besar, mereka tinggal di Vatican dan mengabdikan diri untuk menjaga negara mini ini, atas nama pekerjaan dan keimanan yang tinggi dengan setia. Salut.

Hello, Mr. Swiss Guard! 

After the Church visit, I encountered some of the famous Swiss Guards. These army guys are the guards of the Vatican and the pope in particular. All entrants to the army must be Swiss, Catholic, young, single and they must take the oath of loyalty to the pope. So hard not to stare and take photos of them, since they are wearing such standout outfit, so very cute (I like Swiss men! (^_^;) and very stoic; remind me of the guards at Buckingham Palace.

Pengalaman pertama menginjakkan kaki di Vatican ini berkesan banget. Mungkin lain kali harus kesini lagi pas Paus nya lagi kotbah untuk umum, jadi bisa liat langsung. Katanya sih hari Minggu atau hari Rabu. Yap, lain kaliharus pilih waktu yang lebih tepat.

My first time in Vatican City was totally unforgettable. But maybe on the visit here, I should come on Sunday at noon when the Pope speaks from his window overlooking St. Peter’s Square, or Wednesday morning when he speaks weekly to general audience. I’ll keep that in mind.

CHEERS!

you can leave your comments and kindly subscribe to my blog below guys, thank u:)

 

 

i learn that many times people travel because they simply search for something greater than themselves – olivelatuputty.com @shiningliv

Tags:  ,

Post Your Comment