my Jungle Trip to ‘Suku DAYAK’ (part 2)

borneo

Banyak cerita ketika gue datang ke sebuah pertemuan keluarga besar Suku Dayak Kenyah yang dihadiri oleh lebih dari 4000 orang Dayak asli di Desa Long Noran. Sekitar 14 jam perjalanan – akhirnya sampai juga gue di tengah hutan Kalimantan dimana Desa Long Noran ada.

So i flew to Borneo, to be at this big gathering, attended by as much as 4000 Dayaks in Long Noran, a Dayak village in the upstream of Mahakam River. Sounds like a very exotic trip.  Took me a plane, 2 different car rides, and also two boat rides to be there. After a long 14 hours journey, I arrived.

The presence of those thousands of family related people for one week in the village, created a festival like environment. The nights don’t end until 3 or 4 am in the morning. People sleep randomly, everywhere they want and eat together in any house that provide free food.

Tiga hari gue habiskan di tengah pertemuan warga Dayak ini. Rasanya lebih mirip sedang menghadiri festival keluarga. Tidur ramai-ramai di rumah panggung mereka, dan makan juga ramai-ramai. Menu yang ada nggak jauh dari ikan dan daging babi. Beberapa kali gue lagi jalan dipanggil sama ibu-ibu setempat untuk makan tape ketan yang mereka bikin.

The Games.

Ribuan keluarga yang sedang kumpul di Suku Dayak ini menggelar berbagai jenis perlombaan yang waktunya berdekatan. Siapa lawan siapa, agak kurang jelas, tapi yang pasti setiap lomba selalu dipadatin warga yang jadi suporter yang setia. Lomba main bola, lomba voli, bulu tangkis, lomba dayung, lomba tari dan lomba-lomba lainnya terus ada tanpa henti. Rasanya mereka tidak kenal istirahat karena lomba digelar dari pagi hingga pagi lagi.

Yang paling berkesan buat gue ialah lomba tari perang. Mereka membunyikan satu bunyi tertentu, tanda lomba akan dimulai di salah satu bangunan tradisional yang dirancang untuk kumpulan warga. Dan disana sudah ada serangkaian warga senior yang siap menjadi juri. Pesertanya biasanya berpasangan, menarikan tarian khusus pria dan wanita. Dengan kostum detail yang lengkap, bapak dan ibu menarikan tarian perang sambil memamerkan keahlian mereka. Ah, cantik sekali untuk dilihat.

Selanjutnya ada lomba kapal. Ini juga gue nggak ngerti siapa lawan siapa. Yang jelas ada dua kapal panjang khas Dayak yang diisi belasan laki-laki. Dan mereka akan mendayung secepat-cepatnya untuk bisa sampai di satu garis finish yang ditentukan. Jaraknya dekat, tapi itulah letak keseruannya. Ibu-ibu dan anak-anak duduk di sepanjang bibir sungai, teriak-teriak mendukung salah satu kapal. Ramai banget suasananya.

They compete daily against one another in sport matches like football and volleyball. I could always hear the cheers loudly from a distant every morning and afternoon. Their traditional long boats rowing competition was just awesome. And the very colorful dance performances staged by probably almost the entire village (they took turns every night) were wonderfully unique and amazing to watch. The older people usually became the judges. The dances involved stories of valor and history with shields, feathers and other tribal props. They do have a very rich and diverse culture. I was there filming everything in the mind.

borneo

borneo

What I love most about this Village was also the morning and night special routine, which was a service in their self-built massive Church building. Apparently almost all of them are devoted Christians, thanks to the missionaries. So they no longer worship animist gods and perform witch craft like they famously used to.

Bukan cuma perlombaan dan permainan yang digelar setiap hari, warga asli disini juga mengadakan ibadah kebaktian di sebuah gereja yang mereka bangun ditengah kampung. Sepertinya para misionaris melakukan tugas mereka dengan baik di kampung ini, sehingga animisme yang lekat sebagai identitas Suku Dayang sudah jauh berkurang dan digantikan dengan keimanan pada Tuhan.

The Kids.

Nonton bola, jalan sana-sini di sekitar kampung, gue ketemu dengan banyak anak kecil. Ah, anak kecil disini tuh paling nggak ngerti artinya masalah hidup ya. Mereka kayaknya selalu gembira. Anak mana sih memang yang nggak gembira kalo mainannya bukan ipad, hp atau tv melainkan air hujan, lumpur, batu dan benda lain pemberian alam. Mereka selalu berlarian sambil tertawa lepas dan sangat sangat ramah. Selalu menyapa, tersenyum dan minta difoto! HA!

And the Kids. Oh my. They’re just the happiest kids I had ever seen. Not too much tv or other technology, so they were playing with mud, rocks, trees, animals, water and anything nature provided that they can find. Smiles are always on their lovely faces and they’re very warm as well. They’re always saying hello, talked to me about anything and asked me to take their photos. So cute.

borneo

borneo

borneo

The Hunt.

Hari kedua di tengah hutan Kalimantan ini gue pertama kali nya ikut memancing dan berburu. Seorang anak ngajak kita untuk nyari makan siang bareng-bareng. Rencana yang bisa ditangkap: ikan, babi hutan, ular atau buaya kalau ada. GLEK. Gue dibekali alat pancing sederhana dan sebuah bedil. Masuk ke tengah hutan dengan senjata dan alat pancing adalah kegiatan yang nggak pernah gue buat sebelumnya. Ya ampun, ini aman nggak ya. Adoohhhh. Beberapa jam kita habiskan. UNTUNG banget nggak ketemu binatang-binatang aneh yang di targetkan karena si anak kayaknya juga masih amatir. Lega gue…. Kita di akhir hari berhasil membawa pulang beberapa ekor ikan yang dimasakin dan disajikan untuk makan sore. Makasih Tuhan nggak jadi ketemu ular.

Cuma sensasi nya berada di hutan tuh memang gila ya… burung-burung dan kupu-kupu diatas kepala, cacing-cacing tanah yang menggeliat di telapak kaki pas gue menginjak lumpur untuk waktu yang cukup lama dan suara-suara binatang yang ribut tanpa tau berasal dari arah mana. Wih.

On the second day, our small group of three decided to row a boat, went fishing and hunting. We caught some fish and we had fun. The chirruping sound of cicadas around me, beautiful colored birds and giant butterflies flew overhead, sensation feel of moving mud worms on my bare feet, and the fear of possible encounter with real wild boars, snakes or crocs were all unforgettable.

The Bites.

Pulang mancing dan berburu, banyak yang nanya ke gue, “Gimana tadi? berhasil? Pake obat nyamuk nggak ke hutan tadi?” Loh kok pertanyaannya agak aneh ya… kenapa pada nanya tentang obat nyamuk oles? Dan besokannya gue baru dapet jawabannya. Ternyata mereka kawatir gue digigit sama nyamuk hutan. Tapi peringatan itu terlambat, karena gue di tengah-tengah aktifitas kemaren, sudah terlanjur digigit RATUSAN nyamuk Kalimantan (agas/sandfly) yang haus darah gue, darah Menado. HAHA. Gue nggak berasa sama sekali loh waktu digigit. Gue udah pake baju tertutup pula, tapi teuteup bagian yang terbuka (tangan dan dibawah pergelangan kaki) tetap abis digigit. Dan anehnya, gatalnya pun nggak langsung, tapi baru kerasa setelah 12 jam lebih pasca digigit. Nyamuknya kecil banget, tapi rasa gatalnya menyiksa selama satu minggu penuh! Bentol dan bekasnya, tahan berbulan-bulan. Walhasil pulang dari sana, gue cukup menderita sakit gatal nyamuk yang cukup parah. (cari di wikipedia : sandfly). Syok abis dan tak akan terlupakan selamanya.

That day was also the moment where I got my craziest ‘special’ souvenir from Borneo….which was sand flies BITES. It was NOT a normal mosquito’s bites. I got hundreds of bites all over my ankle and hands, and suffered for weeks after. Just google it if you’re curious about what is a sand fly bite. But I decided not to complain much, and took it as a part of my wonderful trip experience. I just pray that I shall never ever suffer from any sand fly bite ever again in my life. Once is enough. HA!

borneo

Waktu gue balik ke Jakarta akhirnya tiba juga. Ibu-ibu Dayak Kenyah yang terkenal dengan keahlian ukiran dan kerajinan manik-manik, membekali gue dengan banyak oleh-oleh yang gue bawa pulang. Cinderamata lain ialah pelukan dan senyuman dari warga yang tak ternilai rasanya. Luar biasa. Sampai ketemu lagi semuanya!

Anyway, I wished I could stay longer, but busy Jakarta and all my work was waiting. We got many warm ‘goodbye and please come back’ hugs. To bring home, we’re given some traditional home made bracelets, a Hornbills (a spiritual symbol bird for Dayaks) feather hat, some medicine roots from a rare tree that you can only find in Borneo forests, and of course the beautiful memory we carry forever.

guys, you can scroll down to leave your comments and also to follow my blog! thank u:)

 

Being with Suku DAYAK was a lot of things, but forgettable wasn’t one of them -olivelatuputty.com -@shiningliv

 

Join and Follow my blog!

if you love traveling, subscribe now and receive notifications by email. Just write down your

Tags:  

Post Your Comment