JADI GEISHA DI KYOTO. YES, salah satu ‘bucket list’ tercapai hari ini. “Dandan Jadi Geisha di Kyoto, Jepang” – resmi di coret dari daftar karena sudah dilakukan. Siapa sangka seorang perempuan bermarga Latuputty bisa terlihat seperti wanita Jepang tulen bahkan nggak dikenali oleh suami sendiri? HA!
Bangun pagi ini hal pertama yang gue buat ialah membuka jendela apartemen tempat kita tinggal di Kyoto. Hujan nggak di luar? Itu satu-satunya yang dikhawatirkan. Kalau hujan, rusak rencana. Untung biru berbaik hati menunjukkan warnanya di langit. YES! Bangunin suami, mandi, siap-siap, aayoooo buruan yuk kita ke Gion, the day has arrived untuk bisa ngerasain jadi Geisha di Kyoto!
Gion adalah salah satu wilayah di Kyoto yang terkenal sebagai salah satu pusat Geisha dari dulu sampai hari ini. Pusat pelatihan dan pusat pertunjukan. Ini juga adalah setting tempat dari novel paling terkenal karya Arthur Golden, “Memoirs of a Geisha”.
Masuk ke salah satu rumah tradisional di sini, gue khusus meminta untuk bisa ngerasain jadi Geisha selama beberapa jam. If I got only one chance to try this, then this is the perfect place and moment.
Seorang wanita Jepang yang sangat sopan meminta gue untuk mengisi formulir tentang info diri dan juga kesediaan membayar. Semakin ribet permintaan kita, semakin mahal harganya. Mau foto indoor aja? mau indoor plus outdoor? Mau jalan keliling Gion? Mau bawa kipas? Mau naik rickshaw? Mau sampe malam hari? Mau menyewa fotografer pribadi? Mau ini? Mau itu? Terserah kita mau menghabiskan uang berapa untuk pengalaman ini. Untung akuh anaknya rajin menabung ya kan😊.
Setelah beres, suami disuruh menunggu di luar karena hanya perempuan yang boleh masuk ke ruang ganti. Sayangnya, semua barang harus di simpan di locker karena proses transformasi wajah, dilarang untuk diliput kamera apapun. Bah! Gagal deh foto-foto menggila dan mendokumentasikan semua seperti rencana semula.😜
Kita diminta untuk memakai baju putih super tipis dan sehabis itu dibawa ke ruang make up. Bahasa Inggris si make up artis kebetulan terbatas banget jadi musti hati-hati mendengar instruksinya.
“kos ay pish” berarti “harap tutup mata” – ini baru gue mengerti setelah diulang 8 kali. (read: close eye please
). Gue jawab dengan “WHAT“?? Asli beneran gue nggak ngeh.
Untung mbak-nya sabar sama gue. Bisa aja sebenernya dia bikin muka gue jadi cemong hanya karena dia emosi gue nggak ngerti-ngerti maksud dia apa. Hehehe.

Setelah lebih dari 1 jam, tutup buka mata berkali-kali, kaget banget rasanya melihat muka sendiri di kaca. Lagu rapper Eve tahun 2001 yang berjudul “Who’s that girl.. Lalalalala” langsung berkumandang di kepala sebagai Soundtrack momen ini .
Like seriously, I hardly can recognize myself. WHO IS THAT GIRL in the MIRROR?
Sehabis ritual dandan, kita dibawa ke ruang kimono. Ada puluhan kimono super cantik yang harus dipilih untuk dipakai hari itu. Gue jatuh cinta sama beberapa kimono yang detailnya indah banget, tapi akhirnya memilih satu kimono merah.
Harus merah soalnya.
Dibayangan gue, seorang Geisha harus pakai kimono merah. Harus. Nggak tau kenapa. Pokoknya harus merah. Untuk obi / sabuk-nya, gue memilih hijau cause it’s my favorite color. Red+ a splash of green = perfection!

Pemakaian kimono untuk Geisha itu ternyata sangat ribet loh. Prosesnya lama dan bertumpuk-tumpuk dan butuh keahlian khusus dari yang memakaikan. Tugas kita ya bediri aja di depan kaca super gede dan pasrah dililit kain berkali-kali.
Katanya, kimono yang gue sewa ini berharga puluhan juta rupiah jadi harus sangat hati-hati. Dilarang makan dan minum selama penggunaan dan dilarang kena air sama sekali. Itu sebabnya kalau saja hari ini hujan, gagal sudah semua. Puji Tuhan untuk hari yang cerah.


Sehabis itu, gue dibawa ke sesi pemotretan di dalam ruangan yang merupakan bagian dari paket yang gue beli. Beberapa kali pose cekrak cekrek dan lalu setelah itu, gue dibawa keluar. Pintupun dibuka, dan itulah pertama kali suami melihat gue. Tatapan mata 10 detik, dia nggak berkedip tapi lalu habis itu dia tetap diam sambil menunduk. Ya ampun, ternyata dia nggak ngenalin gue.
“Babe!” I called him.
Dia kaget dipanggil, melotot 10 detik, habis itu dia loncat dari tempat duduknya dan semua barang di pangkuannya jatoh ke lantai.
“OMG Is it you Babbbeee?” katanya. Asli kocak abis!!!


Setelah meyakinkan suami bahwa gue bener istirnya, guepun keluar dan berjalan keliling Gion untuk bisa merasakan menjadi seorang Geisha di tempat para Geisha berasal ratusan tahun lalu.
Eh tapi sebenarnya ya, karena kita lagi di Kyoto, panggilan yang benar ialah GEIKO, bukan Geisha. Geisha ialah sebutan di kota lain (Tokyo).
Dan kalau dilihat dari ornamen rambut, jenis bakiak, warna kerah dan juntaian panjang obi / sabuk yang hari ini dipakai, sebenarnya lebih tepat lagi kalau gue disebut sebagai MAIKO.
Maiko adalah sebutan calon/bakal/junior Geiko di Kyoto yang masih dalam tahap pelatihan. Biasanya lebih muda dari Geiko dan perbedaan bisa dilihat dari ciri yang gue sebut diatas. Tapi karena seluruh dunia lebih familiar dengan kata “Geisha”, gue tetap lanjutin tulisan ini memakai istilah GEISHA ya.
Sedikit cerita singkat tentang Geisha:
Pada awalnya, Geisha semua adalah laki-laki. Di tahun 1800-an barulah dunia Geisha dikuasai wanita. Mereka adalah orang-orang terpelajar yang sejak kecil dibekali dan memiliki keahlian tinggi di bidang SENI (Geisha berarti “art person”) dan terlatih untuk menjadi lawan bicara yang cerdas dan tempat bercerita/bertukar pendapat bagi orang-orang kaya dan berpengaruh di Jepang.
Hanya orang penting dan berduit yang bisa ditemani berjam-jam oleh Geisha waktu itu, tapi sama sekali BUKAN untuk hal seksual.
Sampai di Perang Dunia II, perekonomian hancur dan karir Geisha berantakan karena kimono mereka habis dicuri dan orang kaya-pun hampir semua jatuh bangkrut. Saat itulah para wanita pekerja seksual di Jepang mulai berdandan ala Geisha dan menjual diri mereka ke tentara Amerika, sehingga akhirnya merusak citra Geisha yang sebenarnya.
Okay, back to my story.
Begitu keluar ke jalan umum, di luar dugaan, turis-turis yang hari itu sedang di Gion banyak yang mengira kalau gue adalah Geisha beneran. Padahal kalau mereka tau, Geisha asli di Gion hanya lewat di tempat umum menuju tempat pertunjukan seni setelah matahari terbenam. Kalau siang bolong begini, sudah pasti 100% palsu.
Mereka pada panik menunjuk ke arah gue dan ada yang jelas bilang:
“We are so lucky, there’s a geisha today!”.
Dalam hitungan detik, keluarlah semua kamera para turis tadi. Langsung deh dipanggil-panggil, di deketin, diikutin, didatengin dan di foto dari berbagai arah. Gue sempat berhenti beberapa kali melayani foto bareng. Mereka nanya apakah gue bisa Bahasa Inggris dan mereka bilang ke gue kalo mereka seneng banget bisa ketemu seorang Geisha.
Gue menjawab semuanya dengan DIEM aja sambil TERSENYUM, biar semakin meyakinkan
.
Tapi ampun ya, ternyata aktifitas “berburu Geisha di Gion” yang selama ini gue dengar tuh hanya seru sepihak ya. Di pihak Geisha-nya sama sekali nggak nyaman. Gue aja Geisha palsu merasa sangat sangat sangat risih. Apalagi gue sangat menghayati peran ya kan. Hehehe.
Ini lagi low season aja udah begini, apalagi kalo lagi high season and packed with tourists?

Jadinya gue lebih banyak menunduk sepanjang jalan dan berusaha jalan cepat menghindar – walaupun susah banget karena bakiak yang dipakai tinggi sekali dan nggak rata bentuknya. Gue musti konsen jalan supaya nggak jatoh, jaga keseimbangan.. Apalagi jalanan di Gion banyak naik turunnya.
Untung akhirnya gue bisa berbelok masuk ke jalan kecil tanpa turis. Selesai sudah momen singkat jadi ‘artis’ dadakan. Asli ajaib banget kejadian barusan.
Suami yang dari awal jaga jarak sama gue, mengikuti dari belakang, lari-lari kecil sambil ketawa-ketawa. “Mereka pikir kamu Geisha beneran Babe!” katanya kegirangan.
Di jalan kecil ini, baru bisa deh puas foto sama suami tanpa gangguan. Lega. Kita jalan-jalan di Gion btw harus mengikuti aturan yang udah dikasih tau. Jangan ganggu penduduk lokal dan properti mereka, jangan kelamaan ngambil foto di lokasi yang sama, jangan ribut dan ngobrol keras-keras, dan kalau ketemu Geisha asli misalnya (menjelang sore sudah ada geisha asli yang siap-siap) dilarang untuk berinteraksi. Semua itu harus di taati.
Overall, ini adalah pengalaman yang luar biasa menarik.


Sampai ketika gue kembali ke rumah awal, rasanya agak enggan untuk cuci muka dan ganti baju karena sudah sangat menjiwai jadi geisha😅. Tapi well, sudah waktunya pergi ke tempat lain di Kyoto.
Salut untuk para Geisha asli yang bisa berjam-jam mengobrol, menari, menyanyi, bermain musik, sambil tetap bisa mempertahankan keanggunan di dalam kostum yang berat dan make up super tebal.
How do they do that?
Yang jelas, seneng banget bisa menyamar hari ini, merasakan budaya di Jepang, dan belajar lebih banyak. Ini akan jadi salah satu cerita travel yang tak terlupakan.
Btw fyi, gue baru inget untuk posting ini walau udah lama banget gue tulis dan ada di draft blog gue karena baru baca berita kalau sekarang kondisi Gion udah berbeda banget. Dari tahun lalu gue udah denger sih tentang ini, tapi baru tadi gue baca update yang paling baru. Jalanan yang gue lewatin di cerita gue sebagian besar sudah di tutup untuk umum dan turis dilarang masuk. Semua itu ya gara-gara turis dan influencers yang semakin menggila dan nggak menghargai privasi para Geisha asli yang di perlakukan seperti yang gue alami sendiri. Lebih parah bahkan. Ada yang di hadang paksa untuk di video-in, rambut dan kimono-nya di pegang, dipaksa foto walau udah nolak, dll. Itu semua akhirnya membuat para warga lokal dań geisha akhirnya protes ke pemerintah. I think it’s good to keep it private seperti keputusan pemerintah untuk melestarikan budaya. I totally agree.
Gimana menurut kalian pengalaman jadi geisha di Kyoto? Kalau kalian pengan nyobain juga, tinggalin komentarnya dibawah ya:)
Hey, it’s time to start living your bucket list! – olive latuputty.com/blog – @Shiningliv















keren kali kak
Thank youuu Viera, thanks for reading:)
Kena hukum ngga suaminya ngga ngenalin… hahahhahhahah
Hahahahah good idea… he should have!