what i love & i hate…in Raja Ampat

Begitu sampai di perairan luas Raja Ampat, hal pertama yang langsung gue suka adalah warna airnya yang jernih dan indah..oh my! Di depan homestay gue airnya tuh warnanya bagus banget…ada gradasinya pula, kayak lukisan anak seni murni yang udah mau lulus. Canggih banget. Hehehe….oh Papua!!

Air ini membawa ke hal pertama yang gue nggak suka di Raja Ampat; yaitu masih banyak sampah yang ditemuin mengapung di air yang warnanya bagus banget itu tadi. Kalau lagi naik kapal ke pulau-pulau di Raja Ampat, ada satu orang navigator yang bakal duduk didepan kapal. Fungsinya ialah ngasih arah ke kanan atau ke kiri, harus ngebut atau pelan saat si kapal bertemu muka dengan…Sampah! Sampah ada yang berbentuk balok kayu dan ranting pohon (wajar sih), tapi banyak yang berupa plastik, botol dan bungkus rokok. Aduh, sedih banget nih. Satu juta ekor burung laut serta seratus ribu ekor hewan laut mati setiap tahunnya di luatan luas karena memakan sampah tanpa sengaja, loh. Belum lagi yang mati karena terjerat. Karangpun rusak karena sampah-sampah itu. Harus ada penyuluhan ke penduduk setempat untuk nggak buang sampah sembarangan kayaknya ya… Sayang kan kalau dibiarkan!

The first thing I like about Raja Ampat is the color of its water. Oh dear… awesome gradation. Just like a maestro’s work of art. The penetration of sunlight into the sea and its interaction with Raja Ampat’s water creates such wonderful color. But at the same time I got so disappointed  when I found many trash here and there. Bottles, cans, and plastics were floating. Doesn’t anybody know the seabirds and other sea animals, can consume the trash cause they mistake them for prey? Maybe the locals should be educated more on how to throw garbage on the right place. I read one time in a newspaper that over a million sea-birds and one hundred thousand marine mammals and sea turtles are killed each year at sea by ingestion of plastics or entanglement. Not to mention the damaged coral reefs. So, it’s really sad and upsetting that I found that amount of trash in Raja Ampat.

Hal kedua yang gue suka tentang Raja Ampat ialah alamnya yang mentah banget. (terjemahan bebas dari raw nature 😀 ) Pohon-pohon besar, burung-burung dengan warna-warna ajaib berterbangan disana-sini, tupai-tupai lucu yang sering mengintip, dan pastinya hutan-hutan lebat yang belum tersentuh. Berasa banget ini alam liar yang sangat kaya dan penuh variasi. Indah untuk dilihat. Tapi keindahan alam ini membawa gue ke hal kedua yang gue nggak suka di Raja Ampat.

Coba bayangin, saking mentah banget alamnya, di pulau tempat gue tinggal banyak hewan-hewan yang berkeliaran disana sini. Tikus hutan yang suka nyolong makanan di malam hari (temen gue tas nya bolong karena tikus mau nyolong coklat forrero rocher yang dia bawa –> hukuman alam karena bawa coklat gak bagi-bagi temen :p ), biawak besar yang merayap di tempat cuci piring (asli ngagetin), nyamuk papua penghisap darah yang hadir saat habis hujan, ular (gak usah banyak komentar tentang ular ya…tau dong ular kelakuannya..), dan yang paling gila ialah ketika gue memakai celana habis mandi disuatu malam, dan menemukan sebuah kaki seribu ukuran raksasa di celana itu tadi. AAAAAAAAAAAAA!!! Jadi, karena tinggal di pulau, kamar mandi letaknya di luar dan terbuat dari bambu yang banyak lubangnya. Otomatis banyak hewan yang keluar masuk seenaknya, termasuk kaki seribu itu. Asli  sangat traumatik. Seperti adegan di film horror adegan mandi gue malam itu.

The second thing I love about Raja Ampat is the raw nature. Its natural forest has tall giant ancient trees. The colorful beautiful birds flying overhead. Oh, so rich and untouched. But this splendid beauty leads to something traumatic for me personally, which I hated! Imagine this, there are forest rats crawling in your room every night searching for food. They stole my friend’s chocolate and pretty much ate her bag that contained it. There are mosquitos appearing after midnight rain and small bugs are everywhere too. There are snakes in the bushes. There’s a big monitor lizard in the pantry! aannnddd I found a Papuan giant centipede with its double tail lashing angrily behind it, crawled on my pants, while I was wearing them after a shower one night. Traumatic! I threw the pants and screamed like a girl. Absolutely traumatic. The island has no indoor toilet/shower, so the one I used was built near the trees at the back of the island. It’s made out of bamboo, so the centipede easily crawled in and out. The whole experience was crazy but interesting. Something I wont forget.

Hal ketiga yang gue suka tentang Raja Ampat pasti keindahan bawah lautnya. Di tulisan gue yang lain tentang Raja Ampat, gue ceritakan tentang ikan, terumbu karang dan semua makhluk indah dibawah laut yang bisa ditemukan dengan mudah disana. Luar biasa indah. Snorkeling di Raja Ampat sambil berenang kiri kanan bisa sangat menghipnotis dan membuat ketagihan. Tiba-tiba udah jam 1, terus jam 3, terus jam 5…eh loh kok udah gelap? Rasanya tidak pernah cukup untuk bisa ada dibawah air. Belum lagi di depan tempat gue menginap, setiap sore kira-kira jam 3, air akan surut dan gundukan pasir akan timbul dari lautan membentuk daratan pasir putih yang sangat panjang, sehingga kita bisa menyeberang ke pulau sebelah sambil jalan kaki di tengah lautan. Asli KERENnya kebangetan. Bikin betah seharian penuh.

Hal ketiga yang kurang suka tentang Raja Ampat ialah apa yang terjadi pada kulit gue setelah seharian berenang dan snorkeling di lautan biru tersebut. Ternyata matahari yang ada di sana beda ama matahari di bagian Indonesia lain. Hehehe. Matahari disini tidak kenal tabir surya dan tidak kenal ampun. Salah seorang teman gue, bule Jerman, sampai keracunan matahari. (Ada loh penyakit keracunan matahari….google deh!). Perasaan sudah oles sebotol tabir surya, tapi kok kulit bisa perih banget ya….dan GOSONG pula. Perihnya nggak main-main loh, untuk seminggu disana dan seminggu sesudah pulang dari sana, gue selalu mengeluarkan sebuah bunyi keras yang sama setiap kali bagian-bagian gosong tersebut tersentuh… “AWW!”. Untuk informasi, hari ini, 2 bulan setelah pulang dari Papua, kulit gue masih sangat belang. Benar-benar sadis mataharimu, Papua.

The third that got me so hooked up with Raja Ampat is the underwater world. It was totally mesmerizing. The beach is absolutely gorgeous as well. Right in front of my homestay, every 3 pm a bank of sand in a sea submerged at low tide. Me and some locals with their dog used it to cross the sea to the neigbour island. I seriously could spend all day long in the water. But the thing is, Papua is famous for its scorching hot weather. I think the sun is different here in Raja Ampat. So can you imagine what happened to me? After only the first day, my skin not only started to darkened, but I was sun burned! On the third day, it was quite painful to even have my back, hands and legs touched by another person. Sleeping was uncomfortable. Ouch. A friend on the island even got sun poisoning. Well, the tanning was fine tho, but the pain was excruciating. Hated it!

pasir timbul – the sand bank and the tanned me

Hal keempat yang gue suka dari Raja Ampat ialah keramahan penduduknya. Ibu-ibu yang masak di homestay gue akan selalu datang dengan senyum ramah ketika membawa makanan enak ke meja makan kita, dan akan senang hati memasakkan indomie di sore hari tanpa bayaran ekstra kalau kita lapar. Kakak dan adiknya sopan-sopan (disana mas-mas itu panggilannya kakak atau adik, walaupun kita tidak bersaudara sama mereka). Mereka tidak akan mengganggu privasi dan mereka sama sekali tidak kepo. Anak-anaknya juga sangat menyenangkan untuk diajak main-main air dan diajak foto bareng. Mereka narsis kelas tinggi. Sangat menggemaskan!! Pokoknya kesan yang mereka tinggalkan sangat baik.

Hal keempat yang gue kurang suka ialah ketidak tepatan waktu yang mereka punya. Kalau si Kakak bilang akan berangkat snorkeling jam 10, maka itu artinya dia baru mandi jam 10, ketawa-ketawa ama saudara-saudaranya jam 11, ganti baju jam 11.15, lalu akan datang ke kita jam setengah 12 sambil tanya “Bagaimana semua? Sudah siap berangkat? Sudah siang loh…” Sementara gue dan temen-temen (yang sebagian besar bule) sudah siap di pantai dari jam 9 pagi. Adoh kakak ini bagaimana??  Kalaupun besok-besoknya kita “paksa” berangkat tepat waktu, pasti saja ada alasan yang menyebabkan keberangkatan tertunda.

The fourth thing I like about Raja Ampat is the hospitality of the local people. They smile a lot, minding their own business, and very friendly. The kids got me obsessed because they just love being taken photos of. They are so shy but once you capture their photos they would ask for more. SO CUTE. But one thing I dislike about the locals, especially the ones who run the homestay, they are so laidback…even too laidback, in my opinion. As tourists, I usually wake up early to maximize the full usage of time. But the locals couldn’t care less. Let’ say that the night before we arrange to go snorkeling at 10 a.m. The next morning, we all are ready at 9, while the locals will use their time and pick us up at the beach around 11.30, saying “hellooo everyone….ready to go?”

Hal kelima yang gue suka tentang berada di Raja Ampat ialah rasa syukur dan kagum yang selalu ada di hati selama berada di sana. Ya Tuhan ini alam indah banget ya…Ya Tuhan ini masih bagian Indonesia ya? Aduh cantik banget ya…Aku bersyukur bisa punya kesempatan kesini Tuhan… Terimakasih ya.. Untuk hal kelima ini, rasanya nggak ada kontradiksinya ya 😀

The fifth thing I love about Raja Ampat is the way that place makes me feel. I could say “wow” so many times in one day. I couldn’t stop praising God for His wonderful creation. It is a beautiful place. To this fifth thing, I have no further comment.

 

and please leave your comments and kindly subscribe to my blog, guys! thank you:)

 

i do have a love and hate relationship with nature -olivelatuputty.com @shiningliv

2 comments to what i love & i hate…in Raja Ampat

  • ktut sukarno  says:

    ada satu lagi yg aku benci .. biaya ke sana muaahal sekalii!!!

    • Olive  says:

      yuppppp betul:)

Post Your Comment