Virgin Beach & Amed in East Bali

If you’re bored with the ordinary spots most people visit in Bali, maybe you should go to the East. You can find some interesting beaches there. The first one I went to was a small traditional fishing village on the South East coast. This area is tranquil, quiet and surrounded by the scenic Mount Agung. It only takes a 2,5 hours drive from Denpasar.

Kalau mencari suasana yang sedikit berbeda di Bali, coba deh ke wilayah timur Bali. Gue nyobain kesana kemaren. Ada beberapa tempat menarik yang bisa ditemukan. Salah satunya ialah sebuah desa nelayan kecil yang sekarang sedang jadi primadona, khususnya di kalangan bule. Namanya Amed. Suasananya sepi, dengan pemandangan Gunung Agung yang indah dan bisa ditempuh dalam waktu perjalanan selama 2,5 jam saja dari Denpasar.

You can take a taxi to go there (around US$ 50 one way I heard). But the best way of course is to drive there your self. I did that. I found this car rental via Internet, which turned out to be very cheap. They only charged US$ 18 per day (24 hrs) – excluded gas and driver. It’s a descent manual minivan. Good enough for that amount of money spent.

Untuk kesana bisa naik taksi seharga lima ratus ribuan sekali jalan. Tapi kayaknya rugi ya. Mendingan nyewa mobil terus nyetir kesana. Kebetulan kemaren nemu nih di Internet mobil sewaan murah, mobil manual rental 24 jam cuma Rp.180.000 aja. Lumayan dong. (Ini harga tanpa sopir dan BBM…bener-bener tanpa BBM soalnya waktu mobilnya diambil di bandara, tangkinya kosong melompong!;p). *Kalau mau rental di tempat yang sama, hubungin 081905635959 (ini bulan Maret 2013- semoga nomornya gak berubah ya). Untuk menyewa minimal sudah booking sehari sebelumnya dan untuk nyetir sendiri, minimal rental harus 2 hari*

Amed is known for its black sand beaches. The source rocks for the beach came from Mount Agung. It is black with many pebbles in places. I walked on the beach and looked closely at the round shiny black pebbles. They are very pretty. Another thing I like about Amed is the fine snorkeling spots I found and the super-relaxing atmosphere. To stay in Amed, you only need to pay around US$ 10 – up for beachside accommodation to suit all tastes. It’s varied form a clean homestay room to hotels and diving resorts. Choose wisely according to your budget and preferred location.

Amed punya pantai pasir hitam vulkanik yang berasal dari Gunung Agung. Kalau dilihat dari dekat, kerikil-kerikil hitamnya cantik banget loh. Kalau diinjak juga enak, berasa lagi di refleksi. 😀 Orang Indonesia mungkin nggak begitu tertarik dengan pantai berpasir hitam. Tapi yang satu ini menurut gue cukup eksotik. Suasana di Amed sangat super santai dan berasa banget kalau kita lagi di desa. Ada beberapa tempat snorkeling-nya yang oke dan terkenal sampai ke seluruh dunia. Terbukti dengan turis bule yang wara-wiri di Amed. Untuk nginep di Amed, bisa bayar dari Rp.100.000 sampai jutaan.Dari homestay (bersih banget homestaynya) sampai hotel bagus ada disini.Tinggal pilih sesuai kantong dan lokasi.

 

By the winding road from Amed to Denpasar, I found some durians –the stinky fruit- sold by the locals. I stopped to have a taste and it was gooooodd durian!! Loved it! I bought some to bring home. Couldn’t get enough of it.

Balik dari Amed kearah Denpasar, gue wajib berenti di pinggir jalan….bukan buat motret, tapi buat makan duren!!! (durennya di potret sih akhirnya hehehe) Di kanan kiri jalan, banyak orang-orang desa setempat yang menggelar kios dadakan jual buah-buahan habis panen di kebun sendiri. Rambutan, manggis, pisang, dan…durian. Menggoda banget nihh….jadi mau nggak mau berenti deh. 😀 Mereka ngejual satu buah durian seharga sepuluh sampai lima belas ribu rupiah untuk yang paling besar. Mau tau rasanya? ENAK BUANGETTT! Itu pasti mateng pohon deh! Nggak puas makan di tempat, gue bawa satu untuk dibawa pulang saking enaknya. Woohooo.

Around 35 km drive from Amed (right before Candi Dasa), I found a beach called “Perasi Beach” or “the Virgin Beach” or “White Sand Beach”. They brag about it because it’s the only white sand beach around, contrast from the coarse black sand found everywhere else in Eastern Bali. The entrance to the beach is very hidden. I had to turn to this narrow path, passing people’s villages for around 1,5 km with a very bad road condition. It was a serious off-roading experience until I located the beach.

Sekitar 35 km menyetir, gue nemuin satu papan nama bertuliskan “White Sand Beach”. Belakangan ketahuan ini adalah satu-satunya pantai pasir putih di sekitaran timur Bali. Nama lainnya adalah “Perasi Beach” atau “the Virgin Beach” (Pantai Perawan). Nah loh, penasaran banget kan kayak apa pantai yang disebut masih perawan. Gue udah ngebayangin pantai indah kayak di foto-foto 😀 Begitu belok ngikutin tanda papan nama tadi, gue masuk ke jalan yang sangat kecil dan melewati desa penduduk. Banyak sapi, babi, ayam, kambing, sapi dan segala hewan kampung lainnya yang gue lewatin. Setelah 1,5 km-an, kita sampai di tempat pembelian tiket (Rp 5.000). Dari situ masuk ke jalan super rusak yang cukup terjal menuju pantai. Saking jelek jalannya, sampai takut kalau mobilnya nyangkut. Bener-bener harus diperhatikan sama pemerintah nih jalannya. Parah.

found this beauty on the way

It is one of East Bali’s new discoveries and called ‘virgin’. I was so curious how virgin it is. I expected to spot a picture perfect empty white beach. After parking the car, I walked to the beach and I was a bit disappointed. The color of the sand is not pure white to begin with. It was grey-ish (black and white mixed). The beach was also not as empty as I thought it would be. There were lots of people, with so many of ‘warungs’ selling seafood and more, equipped with their own lounge chairs and umbrellas, stretched across the sand. The only fine thing I liked was the color of the turquoise seawater, which was inviting enough. But I decided to just stroll by the 500-metre long beach. It’s quite pretty tho. After a while, I truly believe the beach is not a virgin anymore ;p

Sampai di pantai, bayangan gue tentang ‘pantai perawan’ agak sedikit rusak. Disambut dengan tempat parkir becek dibawah pohon kelapa, bapak tukang parkirnya menyuruh kita untuk memindahkan mobil karena takut ketimpuk buah kelapa. “Entar penyok mobilnya”, kata si bapak. Dari situ, gue disambut sama anjing-anjing kampung waktu jalan kearah pantai. Nggak tau kenapa, gue selalu di sambut ama anjing tiap kali ke pantai. Hehehehe. Begitu pantainya terpampang didepan mata, kesan pertama ialah pasirnya yang ternyata nggak putih, tapi abu-abu. Nggak sama dengan iklannya. Warna airnya sih mengundang untuk berenang, tapi gue memilih untuk jalan di pantainya aja.  Untuk pantai yang terhitung ‘baru’ dipromosikan dari mulut ke mulut di tahun 2009an, kondisinya terlihat seperti pantai lama. Berjejer payung-payung dan warung-warung menjual makanan, minuman dan baju-baju. Turis-turis yang lagi berenang juga cukup banyak. Ada iklan “live music tiap malam” juga disana-sini. Pantainya sebenarnya cukup cantik sih…tapi ah, nggak perawan lagi nih ternyata…..;p

please leave your comments and kindly subscribe to my blog, guys! thank you:)

 

 

don’t we all love the smell of salty hair? – olivelatuputty.com @shiningliv

Tags:  ,

Post Your Comment