Perjalanan Tak Terlupakan di Pulau SABU – NTT

 

Beberapa tahun lalu, di hari pernikahan kita, suami hampir nggak bisa hadir di nikahan kita sendiri – karena sempat terjebak ombak besar ketika mau berlayar naik kapal keluar dari satu pulau di Nusa Tenggara Timur bernama Pulau Sabu. Puji Tuhan, singkat cerita akhirnya dia bisa cabut dari sana naik pesawat kecil dan sampai Bandung tepat waktu, sehingga kitapun jadi NIKAH! Hore! Hahaha

Sejak peristiwa itu, gue nggak akan bisa lupa sama pulau bernama Pulau SABU.

Suami cerita banyak tentang Pulau yang satu ini. Tapi gue nggak ada gambaran kayak apa sampai gue sendiri akhirnya bisa menginjakkan kaki disana.

Di Bulan Oktober 2017,  sebuah kesempatan berangkat ke Sabu terbuka untuk melayani melalui kompetisi sepak bola yang digelar disana. Gue dan suamipun langsung memberikan diri untuk ikut. Wah, akhirnya kita bisa ke Pulau Sabu barengan!

(Mau langsung tonton videonya? Klik disini)

Naik kapal cepat 4 jam dari Kupang NTT, kita disambut ombak yang cukup besar sehingga beberapa teman mual bahkan muntah-muntah sepanjang perjalanan. Untung gue yang udah sangat terlatih sama ombak besar bisa tidur tenang dan sampai dalam keadaan normal. Hehehe

Begitu sampai kita langsung dibagiin MASKER sebelum naik bus yang membawa kita di rumah tempat kita menginap. Kenapa sih harus pake masker? Ternyata jawabannya ialah DEBU! omg, debu di sepanjang jalan bener-bener ekstrem! Jalanan yang terbuat dari batu kapur plus hujan yang berbulan-bulan tak kunjung datang membuat debu putih menumpuk dan berterbangan liar!

Suami cerita, dulu mereka tidak naik bis – tapi naik mobil bak terbuka – dan begitu sampai di tujuan, rambut dan muka sudah berubah warna menjadi PUTIH! 

Sadis.

Penampakan mobil harian kita yang super berdebuu

Sabu memang bukan daerah wisata. Pulau ini juga tidak (belum) di kelola dengan baik sama pemerintah. Di tahun 2017 pas kita datang, jalanan rusak berat! Sebelum era Jokowi, bensin malah masih dijual hingga 80 ribu per liter! Setelah Jokowi, lumayanlah ada perbaikan. Bandara yang cukup oke dengan jadwal penerbangan yang jelas pun sudah hadir. Great!

Me and husband di bandara Sabu

Ada pembangunan mulai terlihat di disana sini juga. Kabarnya, Bupati Sabu sedang masuk bui karena kasus korupsi dan seorang PLT-lah yang sedang memimpin sementara. Ya mari berharap semoga pembangungan tetap berjalan baik, supaya Pulau Sabu maju dan bisa jadi tempat wisata solid suatu hari nanti. Soalnya sebenernya banyak pantai cantik yang bisa banget ‘dijual’ dan ada juga sebuah tempat bernama Kelebba Maja yang keren banget. (Baca cerita dan liat foto-fotonya – klik disini.)

Foto beberapa pemandangan di Sabu:

Kelebba Maja

Pantai di dekat Pelabuhan Seba

my friend and the view

Okay, balik ke topik utama. Aktivitas kita disini yaitu menyelenggarakan kompetisi sepak bola bernama Donahu Cup. Ini adalah PERTAMA KALI nya Pulau Sabu serius mengadakan pertandingan sepak bola antar kampung di Sabu sebesar ini. Sebelumnya, selalu gagal penyelenggaraannya karena ada aja yang pemain/pelatih yang ‘panas’ di lapangan waktu main bola, lalu mulai baku hantam, pukul-pukulan, sehingga batal deh acaranya karena terlalu banyak korban.

BARU KALI INI, acara bisa sukses digelar sampai final, dengan menghasilkan pemenang utama sebuah klub bola bernama LINKIN PARK FC. (Sementara klub yang lain mengambil nama klub dari nama kampung masing-masing, nah yang ini lain sendiri – didasarkan band favorit sang pelatih! Hehehehe)

Mereka happy banget bisa main dan menang dengan sportif sehingga dengan bangganya mengarak piala keliling pulau ketika dinyatakan sebagai pemenang! Super excited! Suami yang selama pertandingan bertindak sebagai wasit utama pun lega! Puji Tuhan banget acara bisa berjalan lancar tanpa ada kerusuhan ataupun korban. Sabu pun percaya diri bahwa ini akan menjadi kompetisi skala besar pertama dari banyak yang akan digelar di masa depan. Amin. Semoga Tuhan mengijinkan.

Gue dengan masker mukabareng suami si Wasit Pertandingan

antusiasme warrga nonton pertandingan

 

Bicara tentang Tuhan, Pulau Sabu sendiri sebagian besar tidak beragama – melainkan menganut aliran kepercayaan bernama Jingitiu. Jingitiu adalah aliran animisme, sehingga masih percaya dan menyembah pohon-pohon besar, batu-batu besar dan roh-roh nenek moyang. Akibatnya ya mistis banget wilayahnya. Nggak jarang ada roh-roh jelmaan yang berterbangan di malam hari. Hiyyyyy….

Apalagi kalao malam suasana menjadi gelap gulita karena banyak rumah belum ber-listrik. Jalanan asli gak keliatan apa-apa sama sekali. Kita musti bawa senter atau lampu dari handphone kalao mau jalan keluar. Eh tapi ya, justru di tempat gelap gulita begini, bintang di langit lengkap sama milkyway-nya terlihat begitu indah. Malem-malem kita bawa kamera berusaha menangkap indahnya angkasa kala malam di Pulau Sabu.

langit Sabu

Waktu balik ketemu sama anak-anak muda yang jalan TANPA penerangan apapun kecuali dari langit. Mereka udah terbiasa jalan kaki di kegelapan, balik ke rumah dari manapun itu. Mereka memang selalu jalan kaki kemana-mana termasuk ke sekalah yang jaraknya berkilo kilo. Luar biasa.

Nah anak-anak muda inilah sasaran dan fokus kita di Sabu. Bagaimana cara membantu anak-anak muda di Pulau ini untuk memaksimalkan bakat dan kemampuan mereka. Lewat sepak bola salah satunya. Di sebuah siang, beberapa anggota tim termasuk gue ikutan untuk ngasih motivasi di sebuah SMP lokal. Mereka sebenernya lagi ujian UN, tapi karena kita datang, mereka sampe di-liburin satu hari khusus untuk kita.

Ahhh seneng banget dikasih kesempatan untuk bisa memberi testimony, berbagi cerita dan kasih semangat kepada mereka untuk BERANI BERMIMPI. Sebuah waktu yang luar biasa. Rata-rata mereka hanya mau melihat diri sendiri sebagai anak kampung yang mentok-mentok ya kerja di Pulau Sabu aja jadi peternak atau nelayan, BAHKAN PREMAN! . Hati trenyuh banget. Padahal kan kalau mereka mau tekun dan rajin belajar, membulatkan tekad, jujur dan bekerja keras, mereka kan bisa jadi apa saja dimana saja. Setinggi apapun cita-citanya tidak ada yang mustahil!!! 

Disini gue juga dikasih kesempatan untuk cerita tentang pengalaman hidup gue dan juga berNYANYI didepan mereka. What a great experience. Semoga apa yang kita tabur disana bisa tertuai manis suatu hari nanti even I am not witnessing it myself. 

me and the kids

 

Selama kurang lebih 5 hari di Pulau Sabu, kita tinggal di rumah penduduk ramai-ramai. Kita para cewek kumpul di satu kamar panggung dan para cowok di satu kamar terbuka. Tanpa kasur pastinya ya.

Cowok jumlahnya lebih banyak dari cewek, sehingga karena nggak muat, beberapa cowok ada yang tidur di atas meja makan, lantai, bahkan di halaman luar! Kacian….

Bukan cuma tidur yang PR, mandi pun kita pake air asin karena pompa sempat rusak sehingga air tawar menjadi sangat langka! Waktu baru datang nih, sempet ada drama seru yaitu WC yang cuma ada 2, mampet!!! Kebayang dong betapa rusuh nya hidup ketika WC gak berfungsi normal. Tapi itulah indahnya traveling model begini. Selalu ada cerita seru! Hahaha

Penampakan kamar cewek

Us in our room

Dapur

Kalau WC dan tidur seadanya, beda kasus sama makanan. Makanan puji Tuhan selalu berlimpah dan variatif. Babi selalu ada😁 – diolah dengan berbagai jenis, salah satunya SE’I, makanan khas Kupang NTT. (Kalau nggak tau apa itu Se’i, bisa baca disini penjelasannya)

Menu enak lain juga hadir, seperti nasi goreng, olahan ayam, ikan, sayuran, cemilan gorengan pisang maupun sukun, dan MANGGA!

Sebagai fans berat buah mangga, gue beruntung banget kesini pas lagi musim mangga. Mangga di Pulau Sabu tuh jujur menurut gue salah satu mangga ter enak yang pernah gue makan seumur hidup!! Gak lebay, sumpah. Entah kenapa di tempat super kering seperti Pulau Sabu justru buah yang di hasilkan sangat luar biasa enak! Puassssss makan mangga, sampe di boyong pulang ke Jakarta dan di abisin pelan pelan sambil merem melek. Yes it’s sooooo good!

Ini dia mangga Sabu

Bunga yang mekar di Pulau ini juga keren banget, warna warni dan super subur. Indah sekali. Kita nemuin bunga mirip Sakura yang membuat kita serasa lagi di Jepang – padahal lagi di pinggir jalanan Sabu yang super berdebu. Nggak nyangka

Perjalanan tak terlupakan di pulau sabu

Selain itu ada juga GULA SABU – yang adalah gula aren produksi lokal yang sangat nikmat. Yang cair bisa diminum campur air biasa atau dicampur air kelapa, dan yang bubuk bisa di pakai untuk makan pake roti. Gula sabu ini juga oleh-oleh andalan yang bisa dibawa pulang dari Sabu. Enak!

Oya, disamping tempat tinggal kita ada lahan besar tempat hewan-hewan berkeliaran bebas. Dari babi, anjing, ayam, kucing, sapi, kerbau, dan kuda! I love animals, so i loved having them around me. Tempat kita tinggal juga deket banget sama pantai – tinggal jalan 25 menit an menit kalo niat.

Di sebuah pagi buta, gue dan beberapa temen yang emang udah pengen banget liat sunrise (termasuk sang suami), berangkat ke pantai. Nyanyi-nyanyi, tidur-tiduran di tikar yang sengaja kita bawa, ngobrol, foto-foto dan pastinya menyambut cantiknya matahari pagi di Pulau Sabu bareng-bareng. Oh, GOD is good! It was a beautiful morning.

Me and hubby enjoying our sunrise

my siluetpic by Novi

sunrise lovers

Sementara di hari yang lain, gue dan teman-teman berangkat ramean lalu mampir beli Kain Sabu dari rumah penduduk. Kain ini hasil dipintal sama ibu-ibu setempat. Untuk Rp.300 ribu gue udah bisa bawa pulang satu kain Sabu cantik – yang dengan noraknya gue pake seharian. Katanya sih kalau udah dijual di luar, kain ini bisa berubah harga menjadi jutaan rupiah. Lucky me!

Di rumah penduduk ini, kita di sajiin kelapa muda yang langsung petik dari pohon. Dan karena gak ada sedotan, minumnya langsung glek dari kelapa nya. Sedap!

Setelah seharian penuh di jalan, kita lalu memutuskan untuk berubu sunset. Para cewek pun memilih naik dibelakang mobil bak terbuka –  bukan di dalam mobil yang nyaman. Kombinasi jalan rusak, angin, debu dan ke-nekad-an plus ketawa mulu tanpa henti membuat hari itu sebagai totally an unforgettable day for us all! Laff you girls!!!



Sebenernya masih terlalu banyak cerita di perjalanan tak terlupakan di Pulau Sabu ini. But I do not think bisa diceritain semua disini. I believe it was a privilege for me to be able to be there, ministering with the team. And will I be back? Good chance I might. See u Sabu, you are in my prayers🙏🏼.

(WATCH FULL VIDEO – CLICK HERE:)

Okay guys, tinggalin komen nya dibawah ya untuk yang sudah baca. Yang belum follow blog gue, please follow my blog via email ya guys. I love writing and hopefully you love reading.

SILAHKAH FOLLOW MY BLOG sekarang. Thanks Guys [jetpack_subscription_form title=”It’s easy!” subscribe_text=”write your email here.” subscribe_button=”FOLLOW NOW”

Your heart will lead you to the places you must go to – olivelatuputty.com/blog – @shiningliv

Tags:  ,

15 comments to Perjalanan Tak Terlupakan di Pulau SABU – NTT

  • Vicky Laurentina  says:

    Ceritanya indah, Olive. Gw belum pernah ke Nusa Tenggara Timur, gw bahkan nggak tahu di Sabu itu sudah ada bandara. Jadi cerita ini mengharukan banget.
    Sedih bayangin anak sekolah di sana cuma mau mentok jadi petani atau nelayan. Alangkah indahnya kalau dia bisa jasi eksportir dari kegiatan sumber daya alamnya itu.

    It’s a great experience of you 🙂

  • sari  says:

    aku suka tulisannya mba, video juga oke salam kenal ya

    • Olive  says:

      salam kenal Sari… thank u so much buat positive feedbacknya:)

  • Anonymous  says:

    Gila keren bgt!!!!

    • Olive  says:

      thank u so much!

  • rike k  says:

    Mba aku udah follow loh

    • Olive  says:

      makasih banyak Rike:)

  • Indra  says:

    Mba, pesawat kesana apa ya?

    • Olive  says:

      halo Indra…pesawat kecil, Susi kalo nggak salah

  • Hanson Tjung  says:

    Seru nih! Tr k sana ah.

    • Olive  says:

      hei brother! iyaaa dong main sini juga heheheh

  • Nia  says:

    Kak, itu bunganya kayak di jepang ya bisa ala ala di ig bilang lagi di jepang kak

    • Olive  says:

      halo Nia… hahahaah iya ya bisa ala-ala banget ya,.,.

  • Anonymous  says:

    Saya sering ke kupanh tapi blm pernah ke pulau ini ka thanks infonya

    • Olive  says:

      wah tinggal nyebrang banget padahal hehehe smoga kapan kapann bisa kesana ya

Post Your Comment

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.