My Quick Tour di Amsterdam

amsterdam1

Hello AMSTERDAM!

Gue mengurus visa schengen untuk bisa pergi ke Eropa via kedutaan Belanda. So, here I am. Arrived safely in Amsterdam. So glad to be here. Begitu mendarat di Bandara Schiphol, gue langsung membeli tiket kereta untuk bisa ke kota, dengan harga sekitar Rp.55 ribu rupiah. Dan begitu sampai di stasiun sentral di kota, gue juga langsung segera cari tau tempat beli kartu transportasi untuk bisa keliling kemana-mana biar nggak banyak waktu terbuang.

I got my schengen visa via the Netherlands Embassy. So I flew to Amsterdam and landed safely and happily. I took a train to the city and when I arrived in the central station I bought a 5 years validity transport card called OV chipcard (cost: 7,50 euro). I thought it’s the most handy compare to any other option I was given.

Setelah nanya sana sini, ternyata yang paling efisien kalo gue beli kartu bernama OV chipcard seharga Rp.115.000 (berlaku selama 5 tahun…siapa tau dalam 5 tahun ini bisa balik lagi ya kan…) terus gue masukin uang deh ke kartu itu. Agak bayar dua kali sih sebenernya, tapi nggak apa apa lah. soalnya OV chipcard ini selain untuk naik bis dan trem di dalam kota Amsterdam, bisa dipake juga untuk naik kereta dan bis ke kota-kota lain yang deket dengan Amsterdam. Itu yang gue incar.

amsterdam2

amsterdam3

Keluar dari stasiun, gue disambut sama suasana kota yang RAME banget, penuh turis dari segala macam negara. Numplek disini. Suasana kotanya walau terlihat sibuk tapi kayaknya nyaman-nyaman aja. Ada kanal-kanal air dimana-mana. Gak jauh dari situ, ada loket penjualan tur pake kapal untuk bisa ngelilingin kanal di dalam kota. Nggak pake mikir, gue langsung bayar sekitar Rp.100.000 per orang, dan naik deh ke kapal bermuatan sekitar 30 orang dengan atap yang rendah. Kapal ini bergerak nggak terlalu cepat melewati hampir semua bagian kanal yang terbuka. Kita ngelewatin rumah-rumah bersejarah, rumah artis, rumah politis, museum, gereja, rumah kapal dan macem-macem sepanjang perjalanan. Ada kaset yang diputar pake loud speaker menjelaskan apa aja yang kita lewatin dalam empat bahasa! (tapi ngga ada Bahasa Indo-nya) Sekali-kali, kapten kapal menambahi info (pake bahasa Inggris) sambil ngelucu-ngelucu gitu.

amsterdam5

amsterdam4

Pemandangan kanal di Amsterdam tuh cantik banget… betah kurang lebih satu jam duduk manis didalam kapal.

My first impression of Amsterdam was BUSY but pretty. Especially the beautiful canals. You can check them out by taking a boat tour like I did. I took a tour around the canals of Amsterdam for a cheap price (8,50 euro per person). An hour ride with explanations about the canals and buildings and the history behind it. It comes in 4 different languages and sometimes the Captain add some facts and jokes as well (in English). It was quite a nice time.

amsterdam7

the flat tour boat

 Selanjutnya, nyari makan! Di Amsterdam banyak banget pilihan makanan yang enak. Dari makanan Asia kayak mie dan dumplings, makanan Timur Tengah kayak kebab (ini jenis makanan favorit jadi ada dimana-mana), makanan Argentina (gue nemu satu resto yang iga babi-nya enak bangett!!), sampai makanan Indonesia. Disini, makanan Indo ngetop, rame dan cukup mahal loh. Soalnya lidah orang Belanda cocok banget ama rempah kita. Ya iyalah cocok… dulu kan ampe betah 350 tahun ya kannnn… Turis Indo juga biasanya suka males nyobain makanan jenis lain, jadi ujung-ujungnya ya makan di Resto Indo juga. Ada resto Blauw yang lagi terkenal banget dan ada juga resto Tempo Doeloe, dan beberapa yang lain.

Gue nemu salah satu kentang goreng paling enak sepanjang masa ya di Amsterdam ini. Cemilan lokalnya yang lain juga enak. Gue nyoba donat Belanda yang cuma dijual pas Natal dan Tahun Baru doang bernama oliebollen. Cuma satu Euro, tapi enakk deh.

Next thing to do is food hunting. I tasted the super delicious Argentinean’s Pork Ribs at of the restaurants. It costs around 13 euro per portion, and it was GOOD. I tried also the famous fries. Fried potato with mayo and chopped onion, ohhh..much better than any fast food’s. I got to taste also its ‘only in Christmas and new year time’ local snack, the oliebollen a.k.a Dutch Doughnuts. It’s super yummyyy…and it’s one euro only. And if you are still hungry, try their signature pancakes. They have Indonesian restaurants here too; which is quite most wanted (and quite expensive) here. The famous ones are Blauw Restaurant and Tempo Doeloe Restaurant.

amsterdam6

Habis itu, waktunya menjelajah kota lagi. Pasti lo udah tau kalo Amsterdam terkenal dengan kebebasan untuk beli dan make ganja. Yap, diseluruh kota gue bisa liat ada plang disana-sini tanda untuk bisa nyobain ganja. Murah lagi. Gue juga ngelewatin Redlight District-nya yang terkenal sebagai pusat prostitusi terbuka di Amsterdam. Mbak-mbak disini mejeng semua di kaca, nggak pake malu padahal cuma pake bh ama celana dalem doang. Dadah-dadah lagi! Hadohhh.

I explored Asterdam after that. Went here and there. Witnessed how easy it was to buy marijuana, since it’s legal here, how easy it was to have an unlimited access to pornography, and how crazy the famous red light district was for me. Oh my gosh.

Oyah, di Amsterdam seperti layaknya rata-rata kota di Belanda, hampir semua penduduk berpergian pake sepeda sebagai transportasi utama. Kayaknya mereka lebih milih itu dibanding bus atau trem kalo untuk jarak deket. Sepeda semua isi jalanan. Mirip kayak yang pernah gue liat waktu pergi ke Cina. Sepeda dimana-mana!! Lucunya, sepedanya tuh sepeda jengki loh..dan ada juga yang sepeda mini pake keranjang didepan. Orang Indonesia mana mau kemana mana pake sepeda jengki..hahaha. Tapi jangan salah. Mahal sepeda disini. Gue denger dari orang lokal, harga satu sepeda yang paling jelek aja tuh biasanya sekitar Rp.9-13 jutaan. Orang-orang kaya disana bahkan beli sepeda yang harganya mencapai Rp.300-400 jutaan. NIAT abis!

Gue tadinya mau nyoba keliling pake sepeda juga. Untuk rental, gue harus bayar Rp.300.000-an untuk satu hari. Tapi karena lagi musim dingin dan suhunya mencapai 0 derajat celcius. Dinggiiiinnn banget. Gak kuat deh kalo harus sepedaan kemana-mana. Plus mahal ya kan. Jadi gue naik tranportasi umum aja karena udah punya OV chipcard juga.

But beside the sincity factor of Amsterdam, i found this city quite interesting. I like how diversed the community, i like the friendly neighborhood, i like how the night lit up, and i like how the city makes bicycles as the main transportation. Almost felt like China when I saw it the first time. Here, it’s no problem to have no car, as long as you have a bike. The bikes are expensive. I heard from a resident, a bike costs around 600-900 euro. Some people even own a 20-25 thousand euro worth of bike!

Everyone can rent a bicycle and explore the city with it (around 20 Euro to rent). I wanted to…so so bad. But it was winter. The wind was realllyyyyy cold and temperature was almost zero degree Celsius. So I chose to walk and sometimes got on the trams and buses. I got my OV chipcard afterall with me.

Menghabiskan beberapa hari di Amsterdam ternyata cukup menyenangkan. Gue suka suasananya yang rame tapi santai, terus orang-orangnya yang dateng dari berbagai latar belakang dan kalangan, dan nyawa dari kotanya yang berasa banget hidupnya. Gue puas-puasin keliling disini karena nggak tau bisa balik lagi atau nggak. Sebenernya sih, waktu urus visa di kedutaan Belanda November 2012 kemaren, prosesnya juga sangat cepat dan nggak ribet. Asal lengkap dan jelas persyaratan dasarnya seperti bukti keuangan, pekerjaan, bukti booking tiket pulang pergi -booking ya..bukan tiket fisiknya..jadi belom bayar juga bisa-, dan keteragan tempat tinggal selama di Eropa, visa langsung bisa diambil besok sorenya. Plus kartu transport gue untuk 5 tahun! Jadi ada lah kemungkinan besar untuk bisa balik kesini kalo ke Eropa lagi, minimal untuk mempir sebentar. 🙂

Spending a few days in Amsterdam was nice. Am I thinking of coming back? Well, the flight to Amsterdam from Jakarta is usually the most affordable compare to other countries in Europe. Applying for schengen visa in Dutch Embassy in Indonesia is also one of the easiest I must say. So, yeah, I think I will come back to Amsterdam, even only for a short stay. 🙂

please leave your comments and kindly subscribe to my blog, guys! thank you:)

 

forget about everything else and enjoy the scene -olivelatuputt.com @shiningliv

Post Your Comment